Seorang teman memajang foto-foto di Facebook. Ada foto aurora di kutub utara, awan entah di mana, sisik ikan di Afrika, dan banyak lagi. Semua foto itu bila dilihat dengan teliti, kata si pemajang, menampilkan nama Allah yang tertulis dalam huruf Arab. Itu semua, kata dia, adalah tanda-tanda kebesaran Allah.
Iseng, saya komentari begini: „People see what they want to see. Cuma lucu saja. Mungkin Allah lupa bahwa tidak semua hamba-Nya bisa membaca huruf Arab, sehingga di negara manapun dia menampilkan tanda kekuasaan-Nya dengan huruf Arab.“ Saya tentu tidak berniat melecehkan Tuhan dengan ungkapan itu. Itu adalah ekspresi kekecewaan saya pada cara teman saya tadi dalam melihat kebesaran Allah. Saya kecewa karena teman saya ini terpelajar, seharusnya dia bisa lebih dari itu.
Bagi saya, aurora, awan, atau apapun yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak perlu menunggu sampai benda-benda itu menampilkan lafal nama Allah dalam huruf Arab. Benda dan fenomena alam, semua teratur dalam hukum-hukum yang mengagumkan. Hukum-hukum itulah tanda kebesaran Allah.
Begitulah yang saya pahami dari Quran. Karenanya banyak perintah Allah dalam Quran yang menyuruh kita untuk mengamati alam. Melihat bagaimana hujan diturunkan, bumi disuburkan, dan sebagainya. Agar kita memahami kebesarannya. Juga agar kita mengambil manfaat darinya.
Sesuatu berwujud tulisan berlafal nama Allah, atau sesuatu yang kita sangka begitu, boleh jadi akan membuat kita merasa lebih dekat pada Allah. Tapi hanya sampai di situ. Tak ada manfaat lebih jauh dari itu.
Marilah kita sadari bahwa benda-benda yang ada di sekitar kita sekarang ini adalah produk yang diperoleh dari pengamatan terhadap berbagai fenomena alam yang dilakukan selama ratusan tahun. Komputer yang saya pakai untuk menulis saat ini, AC yang mendinginkan ruangan, kendaraan yang saya naiki. Semua. Semua yang kita rasakan manfaatnya.
Saya kebetulan pernah menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di Jepang. Sebelumnya saya kuliah di sana. Saya menjadi bagian dari usaha untuk membuka berbagai tabir misteri alam. Bagi saya pribadi, itu adalah kerja untuk menemukan ayat-ayat Allah. Bagi saya dan semua orang yang terlibat, itu adalah kerja untuk mencari manfaat dari berbagai fenomena alam.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa mudah sekali rasanya untuk merasa tersentuh oleh kebesaran Allah. Untuk kagum pada ciptaanNya. Untuk itu kita cukup membaca temuan-temuan orang lain, lalu berteriak “Allahu akbar”. Yang sulit adalah menemukan sendiri. Dan yang paling sulit adalah menemukan ayat-ayat Allah yang kemudian temuan itu bisa dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia.
Saya ingat betul bagaimana saya bekerja sebagai seorang ilmuwan. Untuk mendapatkan data yang bisa dipakai untuk menguji hipotesa diperlukan eksperimen berbulan-bulan. Bahkan bisa bertahun-tahun. Barulah setelah itu kita merumuskan secuil ayat. Itupun tak menjamin bahwa yang kita temukan itu bisa bermanfaat. Banyak yang hanya menjadi sekumpulan informasi. Hanya sampai di situ.
Tapi setidaknya, menemukan sendiri ayat itu jauh lebih membahagiakan ketimbang hanya terkagum-kagum dengan ayat temuan orang lain. Dan tentu saja jauh lebih membahagiakan dibanding dengan menemukan tulisan nama Allah di sisik ikan.
Kita sudah sekian lama menjadi penganut Bucaillisme. Maurice Bucaille kita kenal sebagai penulis buku “Bibel, Quran, dan Sains modern”, yang menyimpulkan bahwa Quran cocok dengan temuan-temuan sains modern. Lalu setelah itu banyak orang yang mengikutinya. Yang mutakhir dari kelompok ini adalah Harun Yahya.
Bucaillisme tentu sedikit lebih baik dari kekaguman terhadap tulisan nama Allah yang muncul di sisik ikan. Tapi Bucaillisme tidak menghasilkan yang lebih dari sekedar decak kagum. Kita tidak menghasilkan sebuah produk riil dari decak kagum itu.
Lebih buruk dari itu, Bucaillisme sebenarnya penuh cacat. Banyak pengabaian serta inkonsistensi di situ. Pengabaian dan konsistensi itu dilakukan demi mencapai kesimpulan tadi; bahwa Quran cocok dengan sains modern.
Secara jujur saya, dengan segala keterbatasan saya, melihat banyak ayat tentang alam yang sebenarnya tidak cocok dengan sains modern. Misalnya tentang matahari yang berjalan dalam konteks kejadian siang dan malam. Karena kita tahu bahwa kejadian siang dan malam adalah akibat rotasi bumi, bukan karena matahari yang berjalan (beredar).
Tapi itu tak penting. Quran bukan buku sains. Ia tak harus memuat seluruh fakta-fakta sains, karena memang tak mungkin. Juga tak harus memuat semua informasi sains secara akurat.
Quran itu petunjuk. Atau bahkan bisa kita sebut penunjuk. Quran menyuruh kita mengamati alam, memberi sedikit bekal awal untuk memicu kita agar bergerak. Kalau bekal itu ternyata tak cocok benar di lapangan sana, tak masalah. Kita harus menemukannya sendiri. Penemuan itu bukan sekedar untuk kagum. Tapi, sekali lagi, untuk kita manfaatkan.
Itulah yang banyak kita lalaikan.
Hasanudin Abdurakhman
Nothing in this world happens by accident, as everything happpens for a reason. maybe I want to live a little longer
Tuesday, November 25, 2014
Pendidikan usia dini dini, untuk apa?
Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, "Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran."
"Maksudnya bagaimana?" tanya saya.
"Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya."
Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.
Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.
Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.
Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.
Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.
TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman.
Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.
Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano.
Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.
Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.
Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.
Saya dekati salah satu guru Ghifari. "Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?" protes saya.
"Oh, ada kok, Pak. Ini dia." katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.
Hasanudin Abdurakhman
"Maksudnya bagaimana?" tanya saya.
"Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya."
Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.
Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.
Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.
Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.
Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.
TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman.
Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.
Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano.
Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.
Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.
Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.
Saya dekati salah satu guru Ghifari. "Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?" protes saya.
"Oh, ada kok, Pak. Ini dia." katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.
Hasanudin Abdurakhman
Lokalisasi
Mohon maaf kepada para lelaki hidung belang. Ini bukan tulisan tentang esek-esek. Kalau Anda hanya berminat pada soal itu, jangan teruskan membaca tulisan ini.
Saya sering menemukan tanda di jalan raya, bertuliskan: "Kawasan tertib lalu lintas". Biasanya disertai keterangan tambahan agar penggunanya mematuhi aturan, memakai helm/sabuk pengaman, dan lain-lain. Setiap kali melihat itu, saya berfikir, "Apakah di luar kawasan itu orang boleh tidak tertib?"
Saya paham bahwa perbaikan membutuhkan proses. Itulah kira-kira tujuan kawasan tertib lalu lintas yang dilokalisir tadi. Di mulai di suatu kawasan, lalu diperluas ke tempat lain, hingga akhirnya berlaku di seluruh wilayah. Sayangnya proses itu seringkali tidak berlanjut. Sehingga yang terjadi adalah lokalisasi kebaikan. Perbuatan baik hanya diwajibkan di suatu tempat yang terlokalisasi.
Tak hanya tempat yang dilokalisir. Waktu juga. Dulu kita mengenal Gerakan Disiplin Nasional. Di saat-saat itu berbagai tindakan dilakukan terhadap orang tak disiplin di ruang publik. Kita menyaksikan orang yang tertangkap menyebrang atau membuang sampah sembarangan, dihukum di depan umum. Tapi ya itu. Hanya pada waktu itu saja. Di luar itu orang boleh kembali ke kelakuan lama, yang tak disiplin.
Kinipun kita melihat hal yang sama. Jalur bus way sudah beberapa kali disterilkan dari kendaraan non busway. Tapi nanti polisi dengan tenang membiarkan orang menerobos jalus bus way. Malah sering kali justru polisi yang mengarahkan orang untuk melewati jalur bus way.
Apa hasil semua itu? Tak ada. Selama orang berfikir bahwa disiplin bisa dihasilkan melalui latihan singkat semacam itu, selama itu pulalah disiplin tak bisa ditegakkan. Singapura butuh belasan tahun untuk mendisiplinkan penduduknya. Celakanya, kita tak punya pemimpin seperti Lee Kuan Yew yang konsisten selama belasan tahun itu. Alih-alih, pemimpin kita adalah orang-orang yang selalu minta dikecualikan dari peraturan. Orang lain harus dilarang bikin villa di Puncak, kecuali para jenderal dan pejabat tinggi. Itu contohnya.
Ada lagi contoh lain untuk mentalitas lokalisasi ini. Menjelang atau selama bulam Ramadan kita lihat gerakan menertibkan tempat hiburan. Berbagai tempat yang diduga tempat maksiat dirazia. Cafe, hotel, karaoke, pub, jadi sasaran. Baik razia resmi oleh aparat pemerintah maupun oleh ormas seperti FPI. Rekan-rekan saya orang Jepang bercerita bahwa di tempat-tempat hiburan malam di kawasan Blok M tidak diperbolehkan menjual minuman keras selama bulan Ramadan. Tujuannya, kata para perazia itu, untuk menciptakan situasi kondusif selama bulan Ramadan.
Sungguh ini logika yang tak saya pahami. Kalau memang maksiat itu mau diberantas, mengapa hanya dilakukan selama Ramadan? Berantaslah semua. Kalau hanya selama Ramadan, itu sih main-main. Seolah di luar bulan Ramadan orang boleh berbuat maksiat.
Pemimpin kita otaknya adalah otak lokalisasi!
Hasanudin Abdurakhman
Saya sering menemukan tanda di jalan raya, bertuliskan: "Kawasan tertib lalu lintas". Biasanya disertai keterangan tambahan agar penggunanya mematuhi aturan, memakai helm/sabuk pengaman, dan lain-lain. Setiap kali melihat itu, saya berfikir, "Apakah di luar kawasan itu orang boleh tidak tertib?"
Saya paham bahwa perbaikan membutuhkan proses. Itulah kira-kira tujuan kawasan tertib lalu lintas yang dilokalisir tadi. Di mulai di suatu kawasan, lalu diperluas ke tempat lain, hingga akhirnya berlaku di seluruh wilayah. Sayangnya proses itu seringkali tidak berlanjut. Sehingga yang terjadi adalah lokalisasi kebaikan. Perbuatan baik hanya diwajibkan di suatu tempat yang terlokalisasi.
Tak hanya tempat yang dilokalisir. Waktu juga. Dulu kita mengenal Gerakan Disiplin Nasional. Di saat-saat itu berbagai tindakan dilakukan terhadap orang tak disiplin di ruang publik. Kita menyaksikan orang yang tertangkap menyebrang atau membuang sampah sembarangan, dihukum di depan umum. Tapi ya itu. Hanya pada waktu itu saja. Di luar itu orang boleh kembali ke kelakuan lama, yang tak disiplin.
Kinipun kita melihat hal yang sama. Jalur bus way sudah beberapa kali disterilkan dari kendaraan non busway. Tapi nanti polisi dengan tenang membiarkan orang menerobos jalus bus way. Malah sering kali justru polisi yang mengarahkan orang untuk melewati jalur bus way.
Apa hasil semua itu? Tak ada. Selama orang berfikir bahwa disiplin bisa dihasilkan melalui latihan singkat semacam itu, selama itu pulalah disiplin tak bisa ditegakkan. Singapura butuh belasan tahun untuk mendisiplinkan penduduknya. Celakanya, kita tak punya pemimpin seperti Lee Kuan Yew yang konsisten selama belasan tahun itu. Alih-alih, pemimpin kita adalah orang-orang yang selalu minta dikecualikan dari peraturan. Orang lain harus dilarang bikin villa di Puncak, kecuali para jenderal dan pejabat tinggi. Itu contohnya.
Ada lagi contoh lain untuk mentalitas lokalisasi ini. Menjelang atau selama bulam Ramadan kita lihat gerakan menertibkan tempat hiburan. Berbagai tempat yang diduga tempat maksiat dirazia. Cafe, hotel, karaoke, pub, jadi sasaran. Baik razia resmi oleh aparat pemerintah maupun oleh ormas seperti FPI. Rekan-rekan saya orang Jepang bercerita bahwa di tempat-tempat hiburan malam di kawasan Blok M tidak diperbolehkan menjual minuman keras selama bulan Ramadan. Tujuannya, kata para perazia itu, untuk menciptakan situasi kondusif selama bulan Ramadan.
Sungguh ini logika yang tak saya pahami. Kalau memang maksiat itu mau diberantas, mengapa hanya dilakukan selama Ramadan? Berantaslah semua. Kalau hanya selama Ramadan, itu sih main-main. Seolah di luar bulan Ramadan orang boleh berbuat maksiat.
Pemimpin kita otaknya adalah otak lokalisasi!
Hasanudin Abdurakhman
Hukum Sekuler vs Hukum Islam
Ada yang entah iseng atau serius, mengomentari kasus kecelakaan Xenia yang menelan korban 9 nyawa itu. Komentarnya begini:
Mencuri 3 buah kakao, Nenek Minah dihukum 1 bulan 15 hari. Membunuh 9 nyawa, menciderai 4 korban, dan mengkonsumsi miras dan sabu, penabrak Xenia dijerat hukuman 6 tahun. Jadi, dalam perspektif hukum sekuler, membunuh 9 nyawa, menciderai 4 korban, mengkonsumsi sabu dan miras ,berkendara secara "ilegal", melanggar peraturan lalu lintas = mencuri 144 buah kakao.
Penulis komentar sepertinya sedang mengejek hukum sekuler, yang menurut dia sangat tidak adil. Sering ada ejekan seperti ini, bahwa hukum sekuler adalah hukum buatan manusia, yang tidak akan pernah adil, karena hanya hukum Allah lah yang adil.
Iseng, saya komentari. Menurut hukum Islam, hukuman atas pencuri adalah potong tangan. Jadi, Nenek Minah di bawah hukum Islam terancam hukuman potong tangan. Adapun pada kasus kecelakaan Xenia, menurut hukum Islam si pengendara dapat dikenai tuduhan "pembunuhan tidak disengaja". Pada kasus seperti itu terbuka kemungkinan si penabrak "hanya" dihukum membayar denda, bila pihak keluarga tidak keberatan. Lalu, kita akan melihat pencuri kakao dipotong tangan, sementara "pembunuh" 9 nyawa melenggang bebas dengan membayar denda. Adilkah?
Hukuman 6 tahun penjara bagi pengemudi mobil naas itu mengusik rasa keadilan kita. Sama halnya dengan berbagai vonis ringan bagi koruptor yang kita saksikan selama ini. Tapi, apakah hukum yang menentukan keadilan, atau manusianya? Itulah masalahnya.
Kita menyaksikan bagaimana hukum Islam seperti yang diterapkan di Saudi Arabia atas beberapa kasus yang menimpa TKW kita, hanya menghasilkan ketidakadilan. Perempuan yang membunuh dalam rangka mempertahankan kehormatannya pada akhirnya harus berhadapan dengan hukuman mati. Sekali lagi, adilkah itu?
Tidak sedikit orang yang tak memahami duduk persoalan, hanya main klaim berbasis ilusi bahwa hukum sekuler itu bobrok, hukum Islam pasti adil. Bagi saya hukum itu suatu sisi, dan manusia pelaksananya ada di sisi yang lain. Dalam kasus Nenek pencuri kakao, persoalan bukan terletak pada sistem hukum, melainkan pada pelaksananya. Banyak kritik yang sudah dikemukakan bahwa penanganan kasus itu terlalu berpegang pada asas legal formal, dan menyampingkan rasa keadilan. Artinya, bila pelaksana hukum lebih mementingkan rasa keadilan, maka ketidak adilan seperti itu tentu tidak akan terjadi. Sebaliknya, pada kasus sopir mobil tadi, hukuman 6 tahun penjara itu hanyalah panduan kasar. Hakim boleh menghukum si pengemudi lebih dari itu.
Rasa keadilan, itulah yang membuat Umar bin Khattab memutuskan tidak memotong tangan pencuri pada masa terjadinya kepalaran, meski Quran tegas-tegas memerintahkan hal itu.
Jadi, baik hukum sekuler maupun hukum Islam, ada potensi ketidak adilan pada penerapannya. Karena itu yang terpenting bukan pada hukumnya, tapi pada pelaksananya. Hukum hanyalah sekumpulan tulisan di atas kertas. Ia bukan penentu keadilan. Manusia dengan akal budinya lah yang harus menentukan keadilan. H.A
Tuhan: Antara Simbol dan Ketaatan
“Yaa hajjah, mundur. Ini shaf untuk lelaki.” tegur seorang petugas keamanan Masjidil Haram kepada seorang ibu. Menilik wajahnya saya duga ia berasal dari Iran. Ibu itu berdiri di pinggir wilayah thawaf di dekat ka’bah. Sudah menjelang fajar saat itu, dan sudah hampir tiba saat untuk salat subuh. Pada waktu salat wilayah itu adalah tempat untuk para pria. Ibu itu diminta pindah ke belakang, di shaf para wanita.
Tapi ia bergeming. Ia tampak komat kamit melafalkan doa. Petugas tadi berusaha lagi menyuruhnya pergi. “Allahu Akbar. Allah di mana-mana. Dia juga mendengar doamu di belakang sana.” teriaknya. Ibu itu tetap bergeming. Ia melanjutkan doanya. Petugas tadi pergi, putus asa.
Lalu datang lagi petugas lain. Drama tadi terulang lagi. Ibu itu tetap bergeming. Petugas mencoba merampas tasnya untuk dilempar ke belakang. Ini teknik ampuh untuk mengusir. Tapi ibu itu lebih gesit. Ia menarik tasnya ke belakang sehingga sambaran petugas luput. Adegan ngotot itu terus berlanjut. Setelah beberapa waktu akhirnya ibu itu mengalah, mau mundur.
Drama ketegangan antara jamaah dengan petugas adalah pemandangan lumrah di Masjidil Haram. Tidak peduli umur maupun jenis kelamin, juga tak peduli suku bangsa, ada begitu banyak peri laku tak tertib di situ. Orang berdiri seenaknya di bagian di mana orang harus lewat sehingga petugas harus berteriak-teriak untuk menyingkirkannya. “Thaariq thaaariq.”
Semakin dekat ke ka’bah semakin nyata ketidaktertiban itu. Di Hijir Ismail orang saring desak saling dorong agar mendapat tempat untuk berdoa. Demikian pula di sisi-sisi ka’bah. Puncaknya tentu saja di Hajar Aswad. Di situ tak ada lagi persaudaraan. Orang di sebelahmu adalah saingan, musuh yang harus disingkirkan. Dorong, jepit, pencet.
Di depan Hajar Aswad tak ada lagi aurat. Perempuan tak sungkan menghimpitkan tubuhnya kepada laki-laki. Suami atau ayah tak segan menyorongkan istri atau anak perempuannya, menempel ketat pada lelaki lain. Semua itu demi satu tujuan: mendekat ke Hajar Aswad.
Ini rumah Tuhan. Setiap orang datang dengan kesadaran itu. Ini tempat di mana kita paling dekat dengan Allah, itu yang kita yakini. Ini rumah Tuhan, dan kita adalah tamuNya. Orang-orang seakan mencoba berada paling dekat dengan Allah.
Tapi di manakah Allah? Fa ainallah? Di shaf terdepan? Di ka’bah? Di Hijir Ismail? Multazam? Hajar Aswad? Tidak. Innii qariib. Aku ini dekat, kata Allah. Dekat di mana? Lebih dekat dari urat lehermu.
Begitu banyak orang mencoba mendekati Allah dengan menggapai simbol-simbol. Tapi sesungguhnya siapakah yang paling dekat dengan Allah? Dialah orang-orang yang sujud. Sujud itu tunduk. Tunduk itu patuh. Patuh itu tertib. Ini dekat yang haq. Adapun kedekatan pada simbol dengan mengabaikan ketaatan, adalah kedekatan palsu. Wallahu a’lamu.
Saya bermimpi suatu saat umat Islam bisa antri untuk mencium Hajar Aswad. Itu sangat mungkin untuk dilakukan, khususnya pada saat umrah di mana jamaah tidak seramai saat haji. Yakinlah, dengan antri akan lebih banyak orang berkesempatan mencium batu itu.
Aquulu qauli haaza wastaghfirulah al-‘adzim.
Hasanudin Abdurakhman
Sunday, November 23, 2014
Pemerintahan Islam
Banyak orang Islam yang membuat kesimpulan, bahwa di bawah pemerintahan Islam, orang non-muslim selalu mendapat perlindungan. Khususnya saat penaklukan wilayah. Kenyataannya tidak demikian. Kekhalifahan Turki Usmani misalnya pernah melakukan pembantaian di Armenia. Bahkan terhadap sesama muslim pun ada catatan sejarah kebengisan. Kita tentu tidak lupa pada sejarah tewasnya Hasan dan Husein. Kita juga tahu bagaimana berdarahnya peralihan kekuasaan dari Bani Umayyah ke Abbasiyah.
Tentu ada pemimpin dalam sejarah Islam yang santun seperti Shalahuddin Al-Ayyubi. Sebagaimana ada pula pemimpin baik laksana beliau dalam peradaban lain.
Intinya, tidak ada sistem yang menjamin kedamaian dan keamanan. Penghormatan terhadap hak-hak manusia adalah sesuatu yang harus selalu ditegakkan oleh usaha tangan manusia, bukan dijamin oleh sistem. Bahkan demokrasi sekalipun bukan jaminan.
Karena itu penghormatan atas hak-hak manusia harus selalu diperjuangkan.
Thursday, November 20, 2014
Let Your Phone Be Smart, You Stay Stupid!
Smart phone itu telepon pintar. Ia tak cuma bisa buat dipakai menelepon dan kirim pesan, tapi ia menyediakan rupa-rupa aplikasi untuk membantu penggunanya. Anda mau apa? Butuh jadwal penerbangan, booking hotel, jadwal salat, apa saja semua bisa anda jangkau melalui telepon genggam. Luar biasa.
Tapi ada sekelompok orang yang pegang telepon pintar, namun ia tetap bodoh. Bodoh karena ia malas memakai otaknya untuk berfikir. Bodoh karena ia memilih untuk tetap bodoh. Bodoh karena ia ingin mempertahankan suatu sikap, sehingga ia menerima saja fakta-fakta palsu, lalu ikut menyebarkannya.
Penulis yang memperkenalkan istilah "sekuler inlander" mengatakan bahwa pemimpin barat kalau sedang minum bir di depan publik akan jaim. Mungkin maksudnya tidak mau memamerkan bahwa ia sedang minum bir. Tentu ini fakta palsu, sekedar untuk mendukung kesimpulan yang sudah disediakan sejak awal. Dengan sekali pencarian di Google kita dengan mudah menemukan foto pemimpin dunia seperti Obama dan Merkel pegang gelas bir, memamerkannya.
Ada lagi yang mengolok-olong Jokowi sebagai tukang masak. Diberi penjelasan dalam budaya barat sana yang memasak dalam pesta BBQ itu adalah orang terhormat, masih ngeyel juga. "Kalau tukang masak yang tuan rumah, tidak pakai celemek," katanya. Aduh bodohnya sudah mentok ini orang. Pakai celemek itu fungsinya agar baju kita tidak kotor. Mau koki profesional atau tuan rumah, masak pakai celemek.
Sekali lagi dengan sekali klik di Google kita bisa menemukan Obama sedang masak pakai celemek!
Dengan telepon pintar fakta itu hanya berjarak sekali klik. Tapi di tangan orang-orang bodoh fakta itu harus didapat melalui orang bodoh yang ia percaya.
Tuhan sungguh mencintai orang-orang bodoh. Ia menciptakan mereka dalam jumlah besar.
Subscribe to:
Comments (Atom)