Tuesday, November 25, 2014

Lokalisasi

Mohon maaf kepada para lelaki hidung belang. Ini bukan tulisan tentang esek-esek. Kalau Anda hanya berminat pada soal itu, jangan teruskan membaca tulisan ini.

Saya sering menemukan tanda di jalan raya, bertuliskan: "Kawasan tertib lalu lintas". Biasanya disertai keterangan tambahan agar penggunanya mematuhi aturan, memakai helm/sabuk pengaman, dan lain-lain. Setiap kali melihat itu, saya berfikir, "Apakah di luar kawasan itu orang boleh tidak tertib?"

Saya paham bahwa perbaikan membutuhkan proses. Itulah kira-kira tujuan kawasan tertib lalu lintas yang dilokalisir tadi. Di mulai di suatu kawasan, lalu diperluas ke tempat lain, hingga akhirnya berlaku di seluruh wilayah. Sayangnya proses itu seringkali tidak berlanjut. Sehingga yang terjadi adalah lokalisasi kebaikan. Perbuatan baik hanya diwajibkan di suatu tempat yang terlokalisasi.

Tak hanya tempat yang dilokalisir. Waktu juga. Dulu kita mengenal Gerakan Disiplin Nasional. Di saat-saat itu berbagai tindakan dilakukan terhadap orang tak disiplin di ruang publik. Kita menyaksikan orang yang tertangkap menyebrang atau membuang sampah sembarangan, dihukum di depan umum. Tapi ya itu. Hanya pada waktu itu saja. Di luar itu orang boleh kembali ke kelakuan lama, yang tak disiplin.

Kinipun kita melihat hal yang sama. Jalur bus way sudah beberapa kali disterilkan dari kendaraan non busway. Tapi nanti polisi dengan tenang membiarkan orang menerobos jalus bus way. Malah sering kali justru polisi yang mengarahkan orang untuk melewati jalur bus way.

Apa hasil semua itu? Tak ada. Selama orang berfikir bahwa disiplin bisa dihasilkan melalui latihan singkat semacam itu, selama itu pulalah disiplin tak bisa ditegakkan. Singapura butuh belasan tahun untuk mendisiplinkan penduduknya. Celakanya, kita tak punya pemimpin seperti Lee Kuan Yew yang konsisten selama belasan tahun itu. Alih-alih, pemimpin kita adalah orang-orang yang selalu minta dikecualikan dari peraturan. Orang lain harus dilarang bikin villa di Puncak, kecuali para jenderal dan pejabat tinggi. Itu contohnya. 

Ada lagi contoh lain untuk mentalitas lokalisasi ini. Menjelang atau selama bulam Ramadan kita lihat gerakan menertibkan tempat hiburan. Berbagai tempat yang diduga tempat maksiat dirazia. Cafe, hotel, karaoke, pub, jadi sasaran. Baik razia resmi oleh aparat pemerintah maupun oleh ormas seperti FPI. Rekan-rekan saya orang Jepang bercerita bahwa di tempat-tempat hiburan malam di kawasan Blok M tidak diperbolehkan menjual minuman keras selama bulan Ramadan. Tujuannya, kata para perazia itu, untuk menciptakan situasi kondusif selama bulan Ramadan.

Sungguh ini logika yang tak saya pahami. Kalau memang maksiat itu mau diberantas, mengapa hanya dilakukan selama Ramadan? Berantaslah semua. Kalau hanya selama Ramadan, itu sih main-main. Seolah di luar bulan Ramadan orang boleh berbuat maksiat.

Pemimpin kita otaknya adalah otak lokalisasi!
Hasanudin Abdurakhman

No comments:

Post a Comment