Tuesday, November 25, 2014

Tuhan: Antara Simbol dan Ketaatan

“Yaa hajjah, mundur. Ini shaf untuk lelaki.” tegur seorang petugas keamanan Masjidil Haram kepada seorang ibu. Menilik wajahnya saya duga ia berasal dari Iran. Ibu itu berdiri di pinggir wilayah thawaf di dekat ka’bah. Sudah menjelang fajar saat itu, dan sudah hampir tiba saat untuk salat subuh. Pada waktu salat wilayah itu adalah tempat untuk para pria. Ibu itu diminta pindah ke belakang, di shaf para wanita.

Tapi ia bergeming. Ia tampak komat kamit melafalkan doa. Petugas tadi berusaha lagi menyuruhnya pergi. “Allahu Akbar. Allah di mana-mana. Dia juga mendengar doamu di belakang sana.” teriaknya. Ibu itu tetap bergeming. Ia melanjutkan doanya. Petugas tadi pergi, putus asa.

Lalu datang lagi petugas lain. Drama tadi terulang lagi. Ibu itu tetap bergeming. Petugas mencoba merampas tasnya untuk dilempar ke belakang. Ini teknik ampuh untuk mengusir. Tapi ibu itu lebih gesit. Ia menarik tasnya ke belakang sehingga sambaran petugas luput. Adegan ngotot itu terus berlanjut. Setelah beberapa waktu akhirnya ibu itu mengalah, mau mundur.

Drama ketegangan antara jamaah dengan petugas adalah pemandangan lumrah di Masjidil Haram. Tidak peduli umur maupun jenis kelamin, juga tak peduli suku bangsa, ada begitu banyak peri laku tak tertib di situ. Orang berdiri seenaknya di bagian di mana orang harus lewat sehingga petugas harus berteriak-teriak untuk menyingkirkannya. “Thaariq thaaariq.”

Semakin dekat ke ka’bah semakin nyata ketidaktertiban itu. Di Hijir Ismail orang saring desak saling dorong agar mendapat tempat untuk berdoa. Demikian pula di sisi-sisi ka’bah. Puncaknya tentu saja di Hajar Aswad. Di situ tak ada lagi persaudaraan. Orang di sebelahmu adalah saingan, musuh yang harus disingkirkan. Dorong, jepit, pencet. 

Di depan Hajar Aswad tak ada lagi aurat. Perempuan tak sungkan menghimpitkan tubuhnya kepada laki-laki. Suami atau ayah tak segan menyorongkan istri atau anak perempuannya, menempel ketat pada lelaki lain. Semua itu demi satu tujuan: mendekat ke Hajar Aswad.

Ini rumah Tuhan. Setiap orang datang dengan kesadaran itu. Ini tempat di mana kita paling dekat dengan Allah, itu yang kita yakini. Ini rumah Tuhan, dan kita adalah tamuNya. Orang-orang seakan mencoba berada paling dekat dengan Allah.

Tapi di manakah Allah? Fa ainallah? Di shaf terdepan? Di ka’bah? Di Hijir Ismail? Multazam? Hajar Aswad? Tidak. Innii qariib. Aku ini dekat, kata Allah. Dekat di mana? Lebih dekat dari urat lehermu.

Begitu banyak orang mencoba mendekati Allah dengan menggapai simbol-simbol. Tapi sesungguhnya siapakah yang paling dekat dengan Allah? Dialah orang-orang yang sujud. Sujud itu tunduk. Tunduk itu patuh. Patuh itu tertib. Ini dekat yang haq. Adapun kedekatan pada simbol dengan mengabaikan ketaatan, adalah kedekatan palsu. Wallahu a’lamu.

Saya bermimpi suatu saat umat Islam bisa antri untuk mencium Hajar Aswad. Itu sangat mungkin untuk dilakukan, khususnya pada saat umrah di mana jamaah tidak seramai saat haji. Yakinlah, dengan antri akan lebih banyak orang berkesempatan mencium batu itu. 

Aquulu qauli haaza wastaghfirulah al-‘adzim.

Hasanudin Abdurakhman

No comments:

Post a Comment