Tuesday, November 25, 2014

Menemukan Ayat-Ayat Allah

Seorang teman memajang foto-foto di Facebook. Ada foto aurora di kutub utara, awan entah di mana, sisik ikan di Afrika, dan banyak lagi. Semua foto itu bila dilihat dengan teliti, kata si pemajang, menampilkan nama Allah yang tertulis dalam huruf Arab. Itu semua, kata dia, adalah tanda-tanda kebesaran Allah.

Iseng, saya komentari begini: „People see what they want to see. Cuma lucu saja. Mungkin Allah lupa bahwa tidak semua hamba-Nya bisa membaca huruf Arab, sehingga di negara manapun dia menampilkan tanda kekuasaan-Nya dengan huruf Arab.“ Saya tentu tidak berniat melecehkan Tuhan dengan ungkapan itu. Itu adalah ekspresi kekecewaan saya pada cara teman saya tadi dalam melihat kebesaran Allah. Saya kecewa karena teman saya ini terpelajar, seharusnya dia bisa lebih dari itu.

Bagi saya, aurora, awan, atau apapun yang ada di sekitar kita adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak perlu menunggu sampai benda-benda itu menampilkan lafal nama Allah dalam huruf Arab. Benda dan fenomena alam, semua teratur dalam hukum-hukum yang mengagumkan. Hukum-hukum itulah tanda kebesaran Allah.

Begitulah yang saya pahami dari Quran. Karenanya banyak perintah Allah dalam Quran yang menyuruh kita untuk mengamati alam. Melihat bagaimana hujan diturunkan, bumi disuburkan, dan sebagainya. Agar kita memahami kebesarannya. Juga agar kita mengambil manfaat darinya.

Sesuatu berwujud tulisan berlafal nama Allah, atau sesuatu yang kita sangka begitu, boleh jadi akan membuat kita merasa lebih dekat pada Allah. Tapi hanya sampai di situ. Tak ada manfaat lebih jauh dari itu.

Marilah kita sadari bahwa benda-benda yang ada di sekitar kita sekarang ini adalah produk yang diperoleh dari pengamatan terhadap berbagai fenomena alam yang dilakukan selama ratusan tahun. Komputer yang saya pakai untuk menulis saat ini, AC yang mendinginkan ruangan, kendaraan yang saya naiki. Semua. Semua yang kita rasakan manfaatnya. 

Saya kebetulan pernah menjadi peneliti tamu di beberapa universitas di Jepang. Sebelumnya saya kuliah di sana. Saya menjadi bagian dari usaha untuk membuka berbagai tabir misteri alam. Bagi saya pribadi, itu adalah kerja untuk menemukan ayat-ayat Allah. Bagi saya dan semua orang yang terlibat, itu adalah kerja untuk mencari manfaat dari berbagai fenomena alam.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa mudah sekali rasanya untuk merasa tersentuh oleh kebesaran Allah. Untuk kagum pada ciptaanNya. Untuk itu kita cukup membaca temuan-temuan orang lain, lalu berteriak “Allahu akbar”. Yang sulit adalah menemukan sendiri. Dan yang paling sulit adalah menemukan ayat-ayat Allah yang kemudian temuan itu bisa dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia.

Saya ingat betul bagaimana saya bekerja sebagai seorang ilmuwan. Untuk mendapatkan data yang bisa dipakai untuk menguji hipotesa diperlukan eksperimen berbulan-bulan. Bahkan bisa bertahun-tahun. Barulah setelah itu kita merumuskan secuil ayat. Itupun tak menjamin bahwa yang kita temukan itu bisa bermanfaat. Banyak yang hanya menjadi sekumpulan informasi. Hanya sampai di situ.

Tapi setidaknya, menemukan sendiri ayat itu jauh lebih membahagiakan ketimbang hanya terkagum-kagum dengan ayat temuan orang lain. Dan tentu saja jauh lebih membahagiakan dibanding dengan menemukan tulisan nama Allah di sisik ikan.

Kita sudah sekian lama menjadi penganut Bucaillisme. Maurice Bucaille kita kenal sebagai penulis buku “Bibel, Quran, dan Sains modern”, yang menyimpulkan bahwa Quran cocok dengan temuan-temuan sains modern. Lalu setelah itu banyak orang yang mengikutinya. Yang mutakhir dari kelompok ini adalah Harun Yahya. 

Bucaillisme tentu sedikit lebih baik dari kekaguman terhadap tulisan nama Allah yang muncul di sisik ikan. Tapi Bucaillisme tidak menghasilkan yang lebih dari sekedar decak kagum. Kita tidak menghasilkan sebuah produk riil dari decak kagum itu.

Lebih buruk dari itu, Bucaillisme sebenarnya penuh cacat. Banyak pengabaian serta inkonsistensi di situ. Pengabaian dan konsistensi itu dilakukan demi mencapai kesimpulan tadi; bahwa Quran cocok dengan sains modern.

Secara jujur saya, dengan segala keterbatasan saya, melihat banyak ayat tentang alam yang sebenarnya tidak cocok dengan sains modern. Misalnya tentang matahari yang berjalan dalam konteks kejadian siang dan malam. Karena kita tahu bahwa kejadian siang dan malam adalah akibat rotasi bumi, bukan karena matahari yang berjalan (beredar).

Tapi itu tak penting. Quran bukan buku sains. Ia tak harus memuat seluruh fakta-fakta sains, karena memang tak mungkin. Juga tak harus memuat semua informasi sains secara akurat. 

Quran itu petunjuk. Atau bahkan bisa kita sebut penunjuk. Quran menyuruh kita mengamati alam, memberi sedikit bekal awal untuk memicu kita agar bergerak. Kalau bekal itu ternyata tak cocok benar di lapangan sana, tak masalah. Kita harus menemukannya sendiri. Penemuan itu bukan sekedar untuk kagum. Tapi, sekali lagi, untuk kita manfaatkan.

Itulah yang banyak kita lalaikan.

Hasanudin Abdurakhman

Pendidikan usia dini dini, untuk apa?

Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, "Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran."

"Maksudnya bagaimana?" tanya saya.

"Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya."

Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.

Kini giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.

Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.

Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.

Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.

TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman. 

Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.

Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano. 

Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.

Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.

Dua bulan yang lalu ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.

Saya dekati salah satu guru Ghifari. "Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?" protes saya.

"Oh, ada kok, Pak. Ini dia." katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.

Hasanudin Abdurakhman

Lokalisasi

Mohon maaf kepada para lelaki hidung belang. Ini bukan tulisan tentang esek-esek. Kalau Anda hanya berminat pada soal itu, jangan teruskan membaca tulisan ini.

Saya sering menemukan tanda di jalan raya, bertuliskan: "Kawasan tertib lalu lintas". Biasanya disertai keterangan tambahan agar penggunanya mematuhi aturan, memakai helm/sabuk pengaman, dan lain-lain. Setiap kali melihat itu, saya berfikir, "Apakah di luar kawasan itu orang boleh tidak tertib?"

Saya paham bahwa perbaikan membutuhkan proses. Itulah kira-kira tujuan kawasan tertib lalu lintas yang dilokalisir tadi. Di mulai di suatu kawasan, lalu diperluas ke tempat lain, hingga akhirnya berlaku di seluruh wilayah. Sayangnya proses itu seringkali tidak berlanjut. Sehingga yang terjadi adalah lokalisasi kebaikan. Perbuatan baik hanya diwajibkan di suatu tempat yang terlokalisasi.

Tak hanya tempat yang dilokalisir. Waktu juga. Dulu kita mengenal Gerakan Disiplin Nasional. Di saat-saat itu berbagai tindakan dilakukan terhadap orang tak disiplin di ruang publik. Kita menyaksikan orang yang tertangkap menyebrang atau membuang sampah sembarangan, dihukum di depan umum. Tapi ya itu. Hanya pada waktu itu saja. Di luar itu orang boleh kembali ke kelakuan lama, yang tak disiplin.

Kinipun kita melihat hal yang sama. Jalur bus way sudah beberapa kali disterilkan dari kendaraan non busway. Tapi nanti polisi dengan tenang membiarkan orang menerobos jalus bus way. Malah sering kali justru polisi yang mengarahkan orang untuk melewati jalur bus way.

Apa hasil semua itu? Tak ada. Selama orang berfikir bahwa disiplin bisa dihasilkan melalui latihan singkat semacam itu, selama itu pulalah disiplin tak bisa ditegakkan. Singapura butuh belasan tahun untuk mendisiplinkan penduduknya. Celakanya, kita tak punya pemimpin seperti Lee Kuan Yew yang konsisten selama belasan tahun itu. Alih-alih, pemimpin kita adalah orang-orang yang selalu minta dikecualikan dari peraturan. Orang lain harus dilarang bikin villa di Puncak, kecuali para jenderal dan pejabat tinggi. Itu contohnya. 

Ada lagi contoh lain untuk mentalitas lokalisasi ini. Menjelang atau selama bulam Ramadan kita lihat gerakan menertibkan tempat hiburan. Berbagai tempat yang diduga tempat maksiat dirazia. Cafe, hotel, karaoke, pub, jadi sasaran. Baik razia resmi oleh aparat pemerintah maupun oleh ormas seperti FPI. Rekan-rekan saya orang Jepang bercerita bahwa di tempat-tempat hiburan malam di kawasan Blok M tidak diperbolehkan menjual minuman keras selama bulan Ramadan. Tujuannya, kata para perazia itu, untuk menciptakan situasi kondusif selama bulan Ramadan.

Sungguh ini logika yang tak saya pahami. Kalau memang maksiat itu mau diberantas, mengapa hanya dilakukan selama Ramadan? Berantaslah semua. Kalau hanya selama Ramadan, itu sih main-main. Seolah di luar bulan Ramadan orang boleh berbuat maksiat.

Pemimpin kita otaknya adalah otak lokalisasi!
Hasanudin Abdurakhman

Hukum Sekuler vs Hukum Islam

Ada yang entah iseng atau serius, mengomentari kasus kecelakaan Xenia yang menelan korban 9 nyawa itu. Komentarnya begini:

Mencuri 3 buah kakao, Nenek Minah dihukum 1 bulan 15 hari. Membunuh 9 nyawa, menciderai 4 korban, dan mengkonsumsi miras dan sabu, penabrak Xenia dijerat hukuman 6 tahun. Jadi, dalam perspektif hukum sekuler, membunuh 9 nyawa, menciderai 4 korban, mengkonsumsi sabu dan miras ,berkendara secara "ilegal", melanggar peraturan lalu lintas = mencuri 144 buah kakao.

Penulis komentar sepertinya sedang mengejek hukum sekuler, yang menurut dia sangat tidak adil. Sering ada ejekan seperti ini, bahwa hukum sekuler adalah hukum buatan manusia, yang tidak akan pernah adil, karena hanya hukum Allah lah yang adil. 

Iseng, saya komentari. Menurut hukum Islam, hukuman atas pencuri adalah potong tangan. Jadi, Nenek Minah di bawah hukum Islam terancam hukuman potong tangan. Adapun pada kasus kecelakaan Xenia, menurut hukum Islam si pengendara dapat dikenai tuduhan "pembunuhan tidak disengaja". Pada kasus seperti itu terbuka kemungkinan si penabrak "hanya" dihukum membayar denda, bila pihak keluarga tidak keberatan. Lalu, kita akan melihat pencuri kakao dipotong tangan, sementara "pembunuh" 9 nyawa melenggang bebas dengan membayar denda. Adilkah?

Hukuman 6 tahun penjara bagi pengemudi mobil naas itu mengusik rasa keadilan kita. Sama halnya dengan berbagai vonis ringan bagi koruptor yang kita saksikan selama ini. Tapi, apakah hukum yang menentukan keadilan, atau manusianya? Itulah masalahnya.

Kita menyaksikan bagaimana hukum Islam seperti yang diterapkan di Saudi Arabia atas beberapa kasus yang menimpa TKW kita, hanya menghasilkan ketidakadilan. Perempuan yang membunuh dalam rangka mempertahankan kehormatannya pada akhirnya harus berhadapan dengan hukuman mati. Sekali lagi, adilkah itu?

Tidak sedikit orang yang tak memahami duduk persoalan, hanya main klaim berbasis ilusi bahwa hukum sekuler itu bobrok, hukum Islam pasti adil. Bagi saya hukum itu suatu sisi, dan manusia pelaksananya ada di sisi yang lain. Dalam kasus Nenek pencuri kakao, persoalan bukan terletak pada sistem hukum, melainkan pada pelaksananya. Banyak kritik yang sudah dikemukakan bahwa penanganan kasus itu terlalu berpegang pada asas legal formal, dan menyampingkan rasa keadilan. Artinya, bila pelaksana hukum lebih mementingkan rasa keadilan, maka ketidak adilan seperti itu tentu tidak akan terjadi. Sebaliknya, pada kasus sopir mobil tadi, hukuman 6 tahun penjara itu hanyalah panduan kasar. Hakim boleh menghukum si pengemudi lebih dari itu.

Rasa keadilan, itulah yang membuat Umar bin Khattab memutuskan tidak memotong tangan pencuri pada masa terjadinya kepalaran, meski Quran tegas-tegas memerintahkan hal itu.

Jadi, baik hukum sekuler maupun hukum Islam, ada potensi ketidak adilan pada penerapannya. Karena itu yang terpenting bukan pada hukumnya, tapi pada pelaksananya. Hukum hanyalah sekumpulan tulisan di atas kertas. Ia bukan penentu keadilan. Manusia dengan akal budinya lah yang harus menentukan keadilan. H.A

Tuhan: Antara Simbol dan Ketaatan

“Yaa hajjah, mundur. Ini shaf untuk lelaki.” tegur seorang petugas keamanan Masjidil Haram kepada seorang ibu. Menilik wajahnya saya duga ia berasal dari Iran. Ibu itu berdiri di pinggir wilayah thawaf di dekat ka’bah. Sudah menjelang fajar saat itu, dan sudah hampir tiba saat untuk salat subuh. Pada waktu salat wilayah itu adalah tempat untuk para pria. Ibu itu diminta pindah ke belakang, di shaf para wanita.

Tapi ia bergeming. Ia tampak komat kamit melafalkan doa. Petugas tadi berusaha lagi menyuruhnya pergi. “Allahu Akbar. Allah di mana-mana. Dia juga mendengar doamu di belakang sana.” teriaknya. Ibu itu tetap bergeming. Ia melanjutkan doanya. Petugas tadi pergi, putus asa.

Lalu datang lagi petugas lain. Drama tadi terulang lagi. Ibu itu tetap bergeming. Petugas mencoba merampas tasnya untuk dilempar ke belakang. Ini teknik ampuh untuk mengusir. Tapi ibu itu lebih gesit. Ia menarik tasnya ke belakang sehingga sambaran petugas luput. Adegan ngotot itu terus berlanjut. Setelah beberapa waktu akhirnya ibu itu mengalah, mau mundur.

Drama ketegangan antara jamaah dengan petugas adalah pemandangan lumrah di Masjidil Haram. Tidak peduli umur maupun jenis kelamin, juga tak peduli suku bangsa, ada begitu banyak peri laku tak tertib di situ. Orang berdiri seenaknya di bagian di mana orang harus lewat sehingga petugas harus berteriak-teriak untuk menyingkirkannya. “Thaariq thaaariq.”

Semakin dekat ke ka’bah semakin nyata ketidaktertiban itu. Di Hijir Ismail orang saring desak saling dorong agar mendapat tempat untuk berdoa. Demikian pula di sisi-sisi ka’bah. Puncaknya tentu saja di Hajar Aswad. Di situ tak ada lagi persaudaraan. Orang di sebelahmu adalah saingan, musuh yang harus disingkirkan. Dorong, jepit, pencet. 

Di depan Hajar Aswad tak ada lagi aurat. Perempuan tak sungkan menghimpitkan tubuhnya kepada laki-laki. Suami atau ayah tak segan menyorongkan istri atau anak perempuannya, menempel ketat pada lelaki lain. Semua itu demi satu tujuan: mendekat ke Hajar Aswad.

Ini rumah Tuhan. Setiap orang datang dengan kesadaran itu. Ini tempat di mana kita paling dekat dengan Allah, itu yang kita yakini. Ini rumah Tuhan, dan kita adalah tamuNya. Orang-orang seakan mencoba berada paling dekat dengan Allah.

Tapi di manakah Allah? Fa ainallah? Di shaf terdepan? Di ka’bah? Di Hijir Ismail? Multazam? Hajar Aswad? Tidak. Innii qariib. Aku ini dekat, kata Allah. Dekat di mana? Lebih dekat dari urat lehermu.

Begitu banyak orang mencoba mendekati Allah dengan menggapai simbol-simbol. Tapi sesungguhnya siapakah yang paling dekat dengan Allah? Dialah orang-orang yang sujud. Sujud itu tunduk. Tunduk itu patuh. Patuh itu tertib. Ini dekat yang haq. Adapun kedekatan pada simbol dengan mengabaikan ketaatan, adalah kedekatan palsu. Wallahu a’lamu.

Saya bermimpi suatu saat umat Islam bisa antri untuk mencium Hajar Aswad. Itu sangat mungkin untuk dilakukan, khususnya pada saat umrah di mana jamaah tidak seramai saat haji. Yakinlah, dengan antri akan lebih banyak orang berkesempatan mencium batu itu. 

Aquulu qauli haaza wastaghfirulah al-‘adzim.

Hasanudin Abdurakhman

Sunday, November 23, 2014

Pemerintahan Islam

Banyak orang Islam yang membuat kesimpulan, bahwa di bawah pemerintahan Islam, orang non-muslim selalu mendapat perlindungan. Khususnya saat penaklukan wilayah. Kenyataannya tidak demikian. Kekhalifahan Turki Usmani misalnya pernah melakukan pembantaian di Armenia. Bahkan terhadap sesama muslim pun ada catatan sejarah kebengisan. Kita tentu tidak lupa pada sejarah tewasnya Hasan dan Husein. Kita juga tahu bagaimana berdarahnya peralihan kekuasaan dari Bani Umayyah ke Abbasiyah.
Tentu ada pemimpin dalam sejarah Islam yang santun seperti Shalahuddin Al-Ayyubi. Sebagaimana ada pula pemimpin baik laksana beliau dalam peradaban lain.
Intinya, tidak ada sistem yang menjamin kedamaian dan keamanan. Penghormatan terhadap hak-hak manusia adalah sesuatu yang harus selalu ditegakkan oleh usaha tangan manusia, bukan dijamin oleh sistem. Bahkan demokrasi sekalipun bukan jaminan.
Karena itu penghormatan atas hak-hak manusia harus selalu diperjuangkan.

Thursday, November 20, 2014

Let Your Phone Be Smart, You Stay Stupid!

Smart phone itu telepon pintar. Ia tak cuma bisa buat dipakai menelepon dan kirim pesan, tapi ia menyediakan rupa-rupa aplikasi untuk membantu penggunanya. Anda mau apa? Butuh jadwal penerbangan, booking hotel, jadwal salat, apa saja semua bisa anda jangkau melalui telepon genggam. Luar biasa.
Tapi ada sekelompok orang yang pegang telepon pintar, namun ia tetap bodoh. Bodoh karena ia malas memakai otaknya untuk berfikir. Bodoh karena ia memilih untuk tetap bodoh. Bodoh karena ia ingin mempertahankan suatu sikap, sehingga ia menerima saja fakta-fakta palsu, lalu ikut menyebarkannya.
Penulis yang memperkenalkan istilah "sekuler inlander" mengatakan bahwa pemimpin barat kalau sedang minum bir di depan publik akan jaim. Mungkin maksudnya tidak mau memamerkan bahwa ia sedang minum bir. Tentu ini fakta palsu, sekedar untuk mendukung kesimpulan yang sudah disediakan sejak awal. Dengan sekali pencarian di Google kita dengan mudah menemukan foto pemimpin dunia seperti Obama dan Merkel pegang gelas bir, memamerkannya.
Ada lagi yang mengolok-olong Jokowi sebagai tukang masak. Diberi penjelasan dalam budaya barat sana yang memasak dalam pesta BBQ itu adalah orang terhormat, masih ngeyel juga. "Kalau tukang masak yang tuan rumah, tidak pakai celemek," katanya. Aduh bodohnya sudah mentok ini orang. Pakai celemek itu fungsinya agar baju kita tidak kotor. Mau koki profesional atau tuan rumah, masak pakai celemek.
Sekali lagi dengan sekali klik di Google kita bisa menemukan Obama sedang masak pakai celemek!
Dengan telepon pintar fakta itu hanya berjarak sekali klik. Tapi di tangan orang-orang bodoh fakta itu harus didapat melalui orang bodoh yang ia percaya.
Tuhan sungguh mencintai orang-orang bodoh. Ia menciptakan mereka dalam jumlah besar.

Tuesday, October 28, 2014

Nobody's Child

Tahun 1987 menjelang kuliah di UGM saya kebetulan hadir di suatu acara (kalau tak salah halal bi halal) masyarakat Kalimantan Barat di Jakarta. Para mahasiswa asal Kal-Bar yang berada di Jakarta terlibat dalam kepanitiaan. Saya waktu itu kebetulan menumpang sejenak di asrama daerah, diikutkan pula sebagai penyambut tamu. Orang-orang penting hadir pada acara itu, termasuk gubernur beserta istrinya.
Dalam acara ramah tamah, gubernur dan istri berkeliling menyapa para mahasiswa. Beberapa tampak sudah akrab dengan mereka. Saya paham, karena kebanyakan dari mereka adalah anak orang-orang penting di daerah kami. Ada yang pejabat pemerintah, tentara, serta pengusaha. Beberapa yang belum dikenal oleh kedua orang penting itu ditanyai, "Kamu anak siapa?" Mereka dengan sopan menjawab, "Saya anak Pak Anu." Gubernur dan istrinya kemudian berkomentar ramah soal orang tua mahasiswa tadi.
Tibalah giliran saya. Istri gubernur dengan ramah menanyai saya.
"Kamu anak siapa?"
"Bapak saya Abdurakhman?"
"Pak Abdurakhman mana ya? Dinas di mana?"
"Tidak dinas, Bu. Bapak saya petani."
Istri gubernur kehilangan kata-kata untuk berkomentar. Dia cuma berguman "Oooo", kemudian berlalu.
Kalau mau diukur dengan jabatan ataupun harta, saya memang bukan anak siapa-siapa. Ayah saya petani, sekolah hanya sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Emak bahkan tak pernah sekolah sama sekali. Saya memulai hidup saya dari tempat paling dasar.
Di sekitar kita, ada banyak orang seperti saya, nobody's child. Orang-orang seperti saya adalah orang yang tertinggal beberapa langkah dalam hal akses. Saat beberapa orang hanya memerlukan satu panggilan telepon atau satu kunjungan dari bapaknya untuk bisa mendapatkan bantuan gubernur, bagi saya bantuan dari gubernur nyaris mustahil. Maka orang-orang seperti saya harus benar-benar istimewa untuk menjadi "seseorang".
Perlukah kita yang bukan anak siapa-siapa ini berkecil hati? Tidak. Dari pengalaman keseharian kita bisa melihat bahwa modal awal bukanlah segala-galanya untuk mencapai sukses. Sebenarnya sukses pun tidak diukur dari berapa tinggi tempat seseorang berdiri. Sukses diukur dari seberapa jauh seseorang telah naik. Tidak hanya itu. Sukses juga akan lebih indah bila dilihat pula jalan apa yang sudah ditempuh oleh seseorang untuk naik sampai ke posisi tertentu. Lebih penting lagi, apa yang kemudian diperbuat seseorang ketika ia sudah sampai pada posisi tertentu.
Hari-hari ini kita melihat ada beberapa orang yang sepertinya tak perlu banyak berkeringat untuk bisa berdiri pada posisi tertentu, karena mereka adalah keturunan orang penting. Sekilas hal itu bisa membuat iri. Tapi cobalah lihat lagi. Mereka boleh jadi hanyalah orang yang jalan di tempat. Tak ada peningkatan dalam hidup mereka. Alih-alih, boleh jadi mereka adalah orang yang sedang merosot.
Tentu ada di antara mereka yang mampu menapak lebih tinggi lagi. Maka perhatikanlah bahwa hanya orang-orang yang berkeringatlah yang mampu melakukan itu. Untuk naik sejumlah anak tangga diperlukan kerja keras yang sama, tak peduli dari mana kita memulainya.
Hari ini dan besok saya berinteraksi dengan sejumlah orang luar biasa, yang tergabung dalam Forum Peneliti Muda Indonesia (ForMIND). Sebagian besar dari mereka ini adalah orang-orang yang sudah menorehkan berbagai prestasi di bidang riset. Ada yang berlatar belakang seperti saya, anak petani kampung. Namun ada pula beberapa yang berasal dari keluarga terpandang.
Ketika saya duduk bersama mereka, tak penting lagi anak siapa mereka. Tak ada bekas tinggalan orang tua dalam rekam jejak mereka. Mereka hidup di dunia di mana hanya kerja diri sendirilah yang dihitung orang.
Saya merasa sangat bahagia bisa berkenalan dan berkumpul dengan orang-orang luar biasa ini. Kebahagiaan kecil saya ini membasuh "luka" di hati saya setelah beberapa hari ini melihat anak-anak orang penting yang tak jelas apa kemampuan dan prestasinya, namun bisa menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Luka saya bukan karena saya merasa bahwa saya lebih berhak. Luka saya lebih karena sedih dan kasihan melihat mereka berusaha mati-matian meyakinkan publik bahwa mereka layak berada di situ. Kasihan, karena mereka hanya sanggup berusaha meyakinkan orang dengan omongan, bukan dengan tindakan. Di ujung cerita, mungkin orang akan mengenang mereka sebagai "Anak Si Anu" belaka. Atau bahkan mereka akan jadi orang-orang yang terlupakan.

Hasanudin Abdurakhman

Cak Nun

"Yang mana yang harus kita lakukan lebih banyak? minta maaf sebanyak-banyaknya atau menyiapkan per-maaf-an sebanyak-banyaknya?" 
#Cak Nun

Yakin

Allah selalu menyayangi kita, seberapa kalipun kita berbuat salah, seberapa besar dosa kita. Allah tak pernah menolak ketika kita meminta kesempatan lagi untuk untuk bertobat.
Dia selalu percaya dan yakin bahwa kita akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Lalu, kenapa kamu tidak yakin pada-Nya?

Tuesday, October 21, 2014

Sungai

nemu postingan lama saya di ISK hahaha


pencemaran disungai wulan (sungai perbatasan kudus demak) telah merugikan banyak pembudidaya ikan daerah demak dan kudus. selama ini pemda menduga penyebab utamanya hanya limbah pabrik, shg pemda selama ini hanya fokus kelimbah dr pabrik dan lbh memperketat pengawasan pd pabrik2 yg membuang limbahnya kesungai wulan saja dalam penanganan pencemaran tsb, tp sy rasa pemerintah telah kecolongan dalam hal ini krn menurut saya penyebab pencemaran tersebut bukan hanya krn limbah pabrik saja seperti yg sekarang disorot pemda, tp juga karena aktivitas mengobat (meracun) ikan oleh warga disekitaran jembatan tanggulangin yg rutin meracun ikan.
saya dpt menyimpulkan seperti itu krn sekitar sebulan lalu saat saya sedang lewat jembatan tanggul angin ada banyak warga yg beramai menyerok ikan yg telah diobat, krn ingin tau sampai mana dampaknya, besoknya saya pergi ke desa setrokalangan untuk mengecek apakah dampaknya sampai kesana atau tidak, dan ternyata ikan2 disana banyak yg mati krn racun, hal ini diperkuat oleh keterangan warga setrokalangan saat saya bertanya "lho pak niki ulam e kok do mati?. beliau menjawab, "niku mas, bar diracun daerah wetan nek ora teko tanggulangin yo karang anyar",. saya yakin dampaknya bukan cuma ke desa setrokalangan saja, tp pasti lbh keutara lagi, bahkan bisa jd sampai kab jepara, tp saya belum sempat menyisirnya lbh keutara lagi. kalau dibiarkan, bukan ikan dan satwa air lainnya juga bisa punah, padahal sungai wulan adalah sungai paling potensial dikabupaten kudus.
pesan saya untuk masyarakat mbok yo tulung kesadarannya, dan untuk pemda dan aparat kepolisian, tolong diperketat lagi pengawasan tindakan pidana seperti ini.
cintai alammu, Tuhan akan mencintaimu.
semoga tidak ada yg lupa tugas manusia sbg khalifah dibumi ini.

Monday, October 20, 2014

Adnan Buyung Nasution, bagian dari mafia hukum?

Bila ingat kasus BLBI otomatis saya ingat Sjamsul Nursalim. Hingga saat ini Sjamsul masih terjerat kasus Wanprestasi sebesar Rp 29 triliun. Ingat, kasus Century yang heboh itu cuma melibatkan dana Rp 6,7 triliun. Sjamsul sendiri masih berada di Singapura. Sudah 9 tahunan dia berada di sana dan enggan pulang. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.

Mari kita ingat-ingat kasusnya. Tahun 2001 Sjamsul ditahan oleh Kejaksaan Agung. Lalu keluarlah jurus yang hingga saat ini masih ampuh untuk menghindari jerat hukum, yaitu sakit. Sjamsul minta izin berobat ke Jepang, dan diizinkan Kejaksaan Agung. Dan seperti banyak kasus lain, Sjamsul tidak kembali. Dia ngacir ke negeri jahanam, Singapura.

Majalah TEMPO (kalau tidak salah) pernah melaporkan kondisi Sjamsul. Dia „memang menjalani rawat inap“ di sebuah rumah sakit mewah. Terdaftar di situ sebagai pasien. Tapi dia tak selalu ada di situ. Dia lebih sering tinggal di apartemen. Artinya dia tidak sakit, sebenarnya. Bodoh kan kita ini bisa dikibuli Sjamsul?

Masalahnya, bodohkah seorang pengacara kondang bernama Adnan Buyung Nasution? Dialah pengacara yang mendampingi Sjamsul tahun 2001. Bahkan hingga saat ini Sjamsul masih klien di kantornya (mohon koreksi bila keliru). Saat itulah Sjamsul pergi ke luar negeri dan tak kembali.
Kita bisa bayangkan, siapa yang mengurus izin kepergian Sjamsul? Ya, pasti Buyung lah. Bagaimana bisa? 

Bagaimana bisa seorang pengacara, kampiun penegak hukum, bisa dengan mudah dikibuli dengan alasan sakit? Bukan baru sekali ini orang kabur dengan alasan pergi berobat. Tidakkah Buyung sadar itu? Rasanya tidak mungkin kalau Buyung tidak sadar bahwa alasan berobat sangat mungkin digunakan Sjamsul untuk kabur dari hukum. Lalu kenapa Buyung membantu urusan pelarian Sjamsul?

Arthalita. Kita masih ingat namanya. Dialah perempuan yang dihukum karena menyuap Jaksa Urip. Untuk apa? Untuk kasus Sjamsul. Beberapa hari sebelumnya kejaksaan mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa Sjamsul tidak melanggar hukum. Ada bukti rekaman yang menunjukkan bahwa ada pejabat yang lebih tinggi terlibat, di antaranya Kemas Yahya Rahman, Jaksa Agung Muda waktu itu. Amar keputusan pengadilan menegaskan hal itu.

Sekarang orang heboh bicara soal mafia hukum. Hanya orang bodoh yang akan berkata bahwa tidak ada mafia dalam kasus Sjamsul. Begitu terang benderang kasusnya, tapi begitu gelap penanganannya. Lalu, di mana posisi Buyung? Apakah dia bagian dari mafia itu? Entahlah.

Yang jelas Buyung berperan dalam pelarian Sjamsul. Meski secara hukum dia bisa mengelak, secara moral Buyung harus bertanggung jawab. Dia yang membantu Sjamsul kabur, dia pula yang harus memastikan Sjamsul kembali untuk menjalani proses hukum. 

Di mata saya, Buyung hanyalah seorang pengacara. Dia bukan pahlawan. 

Hasanudin Abdurakhman 6 April 2010

Poligami, masuk surga

Dua bulan yang lalu saya ketemu Anies Baswedan di kantornya, Yayasan Indonesia Mengajar di Kebayoran lama. Hadir di situ beberapa teman lain, umumnya teman main waktu masih di Yogya dulu. Obrolan ringan melantur sampai ke urusan poligami. Dan Anies menceritakan dua joke. Kali ini saya tulis satu saja dulu.

+++
Alkisah ada dua orang lelaki. Yang satu punya istri lebih dari satu, alias poligami. Yang satu lagi tipe lelaki yang setia pada satu istri. Setelah dihisab, ternyata lelaki yang poligami berhak masuk surga, sedangkan yang setia masuk neraka. Proteslah lelaki yang masuk neraka itu.

"Tuhan, ini keputusan yang tak adil. Setia pada istriku, memperlakukannya dengan baik. Sedangkan dia, dia mengkhianati istrinya. Kenapa Kau anggap dia lebih baik?"

"Ini bukan soal perilaku, tapi ini soal yang lebih fundamental, yaitu soal ketaatan."

"Apa maksudMu? Sepanjang hidup aku taat padaMu."

"Begini. Yang berpoligami itu, dia taat padaKu sepenuhnya. Utuh. Tak ada yang dia takuti selain Aku."

"Akupun demikian, ya Tuhan."

"Ah, tidak. Kau lebih takut pada istrimu. Makanya kau tak berpoligami."

HA

Korupsi dan Politik Sektarian

Sekitar tahun 1993 Amien Rais berbicara di depan warga Muhammadiyah di Pontianak, kampung saya. Dia mengabarkan kondisi UII (istilah dia ketika itu), umat Islam Indonesia. Amien berkata kurang lebih begini. „Mencermati komposisi kabinet yang terbaru kita bisa bernafas lega. Di masa lalu posisi-posisi penting di bidang perekunomian dikuasai oleh RMS (dikenal sebagai singkatan dari Republik Maluku Selatan), yaitu Radius (Prawiro), Mooy (Adrianus Mooy), Sumarlin. Kini yang berkuasa adalah Afif (Saleh Afif), Mar’ie (Muhammad) dan Fuad (Bawazier), disingkat AMF. Yang bisa juga kita panjangkan menjadi Arab Mengurus Fulus.“ kata Amien sambil bercanda.

Pada intinya Amien sedang mengabarkan adanya perubahan dalam peta politik nasional. Apa perubahannya? Bahwa orang-orang Islam mulai diberi tempat di posisi strategis, yang selama ini justru dipegang oleh minoritas Kristen. Perubahan itu dianggap sebagai perubahan seorang Soeharto, dari seorang abangan yang dekat dengan kalangan Kristen, menjadi seorang muslim yang saleh.

Di masa-masa itu umat Islam memang dianggap sedang berbulan madu dengan kekuasaan. Dimulai dengan berdirinya ICMI yang kemudian membawa dampak pada komposisi kabinet tadi, juga pergi hajinya Soeharto, sampai ke hal yang tetek bengek seperti pelajaran bahasa Arab di TVRI. Semua ini dianggap sebagai hadiah bagi umat Islam, setelah sekian lama mereka disudutkan dan dipinggirkan oleh pemerintah Orde Baru.

Masih dalam periode yang sama. Suatu ketika, sebagai aktivis Jamaah Shalahuddin UGM saya pernah pergi menjemput Lukman Harun ke bandara. Sepanjang perjalanan kami berbincang santai. Salah satu ungkapan Lukman adalah kritik terhadap para mahasiswa. „Kalian para mahasiswa sibuk meributkan kolusi keluarga Soeharto. Ingat, kalau anak-anak Soeharto kaya, mereka membangun mesjid. Nah, kalau Cina-cina itu, mereka membangun gereja!“

Di lain kali ada pula seorang cendekiawan yang bercerita bagaimana religiusnya seorang Tomy Soeharto.

Begitulah. Saya melihat orang-orang begitu gampang memaafkan perilaku korup, termasuk yang sudah menggurita seperti yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarganya. Soeharto bisa dimaafkan hanya karena dia terlihat lebih dekat ke kelompok Islam.

Karena kesal dengan itu semua, saya mengejek Amien Rais ketika dia mulai menggulirkan isu suksesi. Tahun 1994 dalam sebuah diskusi di Gelanggang Mahasiswa UGM saya terang-terangan menyebut Amien Rais sebagai pahlawan kesiangan, karena sebelum itu Muhammadiyah menyatakan dukungan terhadap pencalonan kembali Soeharto. Amien ketika itu adalah salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.

Apa yang membuat mereka jadi demikian pemaaf? Sektarianisme. Maaf kalau istilah ini tidak tepat. Saya tidak akan rumit-rumit dengan istilah. Sederhananya, sejauh kelompok saya diuntungkan, atau sedikit lebih diuntungkan, maka saya akan mendukung (Soeharto). Tidak peduli apakah kekuasaan Soeharto itu korup atau tidak.

Sejauh pengamatan saya, itu berlaku di setiap kalangan. Sedikit orang yang mau mengambil resiko melawan Soeharto. Yang banyak adalah yang bertarung di tingkat bawah, berebut kuasa di bawah kaki Soeharto.

Soeharto mengambil keuntungan dari pola fikir itu. Dia ciptakan hantu-hantu di bawahnya. Salah satunya adalah L.B. Moerdani. Orang Islam percaya bahwa Moerdani itu orang kuat, yang siap menggulingkan Soeharto kalau ada kesempatan. Dan dia Kristen. Artinya, kalau Soeharto tidak didukung, bisa-bisa dia dijatuhkan oleh Moerdani, dan Indonesia akan dipimpin oleh seorang Kristen.

Di berbagai tingkat pola fikirnya demikian. Seorang kepala daerah didukung hanya karena dia beragama Islam. Selebihnya bisa diabaikan. Seorang teman dekat saya, juru bicara sebuah organisasi Islam pernah memuji Sutioso, hanya karena Sutiyoso menutup lokalisasi Kramat Tunggak.

Tentu bukan orang tak sadar bahwa Soeharto itu korup. Sebagian mereka hanya berpuas dengan menjadi sub-ordinat di bawah Soeharto. Sebagian lain menikmati posisi sebagai bagian dari kekuasaan dengan memberi pembenaran atas kelakuan Soeharto dan kroninya. Lukman Harun, misalnya, terakhir tercatat sebagai anggota DPR dari Golkar hasil pemilu 1999. Kerabat dekatnya Din Syamsudin yang sekarang Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah salah seorang pengurus Golkar, dan pernah jadi Dirjen di salah satu departemen.

Jadi, kalau kita bertanya, mengapa korupsi demikian meraja lela, itu karena kita membiarkannya. Dan selama pola fikir kita masih sektarian seperti para pemimpin yang saya sebut tadi, maka korupsi tak akan bisa diberantas. Lebih tegas lagi hendak saya katakan bahwa musuh orang Islam Indonesia bukanlah orang Kristen, Hindu, Budha, tapi orang korup!


Hasanudin Abdurakhman

Tertipu oleh napsu kita sendiri

Saya kerap menerima SMS, berisi pemberitahuan bahwa saya mendapatkan hadiah sekian puluh juta, bla bla. Tentu saja SMS seperti ini saya abaikan dan saya hapus. Tapi kadang saya iseng juga, saya balas. "Mau nipu aja nggak kreatif. Yang beginian mah udah basi. Pakai cara baru dong."

Tapi penipu memang seperti tak pernah kehabisan akal. Suatu hari saya memasang iklan untuk menjual rumah saya di Pontiak di sebuah koran Nasional. Pagi-pagi sudah ada telepon yang menyatakan hendak membeli. Dia mengaku sedang berada di Pontianak. Terjadi tawar-menawar sejenak, lalu deal. "Gampang amat?" fikir saya. Lalu penelepon itu minta nomor rekening saya untuk mengirimkan tanda jadi, agar rumah itu tak saya tawarkan ke orang lain. Saat saya cek transfernya tidak ada. Saya telepon dia, dia mengatakan ada gangguan teknis di bank. Lalu dia berpura-pura mengalihkan telepon ke petugas bank, dan petugas gadungan ini mengarahkan saya untuk mentransfer uang ke rekening tertentu. Sialan.

Beberapa minggu yang lalu di keluarga istri saya ada bisik-bisik soal hotel mewah tapi murah meriah, nyaris gratis. Terbiasa dengan trik penipu yang aneh-aneh, saya cuma senyum-senyum saat ditawari. Belakangan saya diberi tahu bahwa untuk dapat voucher menginap di hotel tersebut kita "hanya" perlu membayar PPN. Berapa? Sekitar 1 juta rupiah per malam. Hahahahahaha. Kalau PPN 1 juta, artinya tarif menginap di hotel itu 10 juta. Halah. Itu cuma cara orang jualan kamar hotel bertarif 1 juta per malam.

Saya lalu teringat kejadian di sebuah mal. Istri saya diberi kotak undian, dan disuruh mengambil nomor. Ternyata dia mendapatkan hadiah sebuah blender atau apa gitu. Lalu diminta datang ke konter untuk proses administrasi. Tak lama kemudian dia datang ke saya memberi penjelasan bahwa dia harus bayar PPN sebesar 600 ribu (kalau nggak salah). Saya bilang, "Sayang, itu seharga sebuah blender, alias kita disuruh beli blender." Istri saya tertawa ngakak.

Macam-macam lagi cara orang untuk menipu. Intinya, mereka memanfaatkan kegembiraan kita yang melebihi kadar, karena kita percaya bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan. Lalu kita tak lagi berhitung dengan benar.

Jadi, siapa yang menipu kita? Ya, nafsu kita sendiri.


Hasanudin Abdurahman

Demi Kepentingan Bangsa (t)

Tahun 1990-an Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri. Saya waktu itu masih kuliah di UGM. Saya merasa dekat dengan organisasi ini karena beberapa tokohnya adalah dosen-dosen UGM yang sudah saya kenal secara akrab. Bahkan saya turut membantu pelaksanaan beberapa kegiatan ICMI di Yogyakarta.

Setelah berdiri di bawah ICMI kemudian lahir badan-badan lain. Ada koran, lembaga penelitan, bahkan kabarnya ICMI akan punya stasiun TV. Suatu ketika saya berkunjung ke Jakarta. Karena merasa dekat dengan ICMI saya sempatkan untuk singgah di kantor lembaga penelitian yang didirikan ICMI tadi. Dari pembicaraan yang beredar lembaga ini diniatkan untuk menyaingi CSIS, sebuah lembaga think tank milik "kelompok sana". CSIS dianggap salah satu biang keladi dari berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru yang dinilai tidak pro umat Islam. Artinya, lembaga penelitian milik ICMI ini tadi akan menjadi pembalik sejarah, merumuskan kebijakan-kebijakan yang pro umat Islam, yang kebanyakan masih kaum dhuafa itu.

Kantor lembaga penelitian ini ada di salah satu ruangan di gedung BPPT di Jl. Thamrin. Tak perlu lah heran, karena Ketua BPPT waktu itu adalah Habibie, yang juga adalah Ketua ICMI. Dan yang saya temukan di kantor itu lebih dari yang saya duga. Semua peralatan, meja kursi, sampai mesin tik, saya lihat merupakan barang-barang inventaris BPPT. Saya pulang ke Yogya sambil terheran-heran, tentu saja. Tapi saya masih berniat melakukan konfirmasi.

Tak lama setelah itu, salah seorang petinggi lembaga tadi datang ke Yogya. Seperti biasa kami yang muda-muda dikumpulkan, diajak berdiskusi. Nah, kesempatan itu saya manfaatkan untuk konfirmasi, bagaimana ceritanya sebuah lembaga non-pemerintah bisa mendapat fasilitas dari lembaga pemerintah. Dalam fikiran saya, harus ada pemisahan yang tegas antara kepentingan orang-orang pemerintah yang kebetulan jadi pengurus ICMI, dengan posisi/jabatan mereka di pemerintah. Saya masih berharap dapat jawaban yang menggembirakan, misalnya bahwa semua fasilitas itu disewa oleh ICMI dari BPPT.

Tapi jawaban yang saya dapatkan sungguh mengecewakan. Petinggi ICMI, yang sekaligus pimpinan lembaga penelitian tadi dengan nada marah, juga melecehkan saya (menyebut saya tidak cerdas), membantah prinsip saya. "Kamu itu sama sekali tidak cerdas. Kami ini bekerja untuk kepentingan bangsa. Apa salahnya kalau kami pakai fasilitas milik negara? Kamu tahu tidak, orang-orang lain sudah lebih dulu menggunakan cara-cara seperti ini. Justru sekarang ini giliran kita!!!"

Walhasil ketika itu saya jadi bahan tertawaan dan cemoohan forum. Tapi saya jadi sadar pada satu hal, bahwa lembaga dan orang-orang semacam ini tak perlu lagi saya dekati. Sejak itu saya menjauh dari ICMI.

Waktu berjalan. Tokoh-tokoh ICMI banyak yang jadi menteri. Tokoh yang saya sebut tadi akhirnya kebagian juga di kabinet Habibie. Sejak awal dia memang mengumbar info bahwa banyak uang negara yang dikucurkan dalam bentuk kredit besar-besar, dan banyak yang macet. Program kerja dia sebagai menteri adalah "membagikan" uang negara untuk rakyat kecil, dalam bentuk kredit juga. Prinsipnya tak jauh beda dengan urusan kursi meja tadi. Orang lain sudah dapat, kini giliran kita.

Kredit yang dikucurkan memang tak diharapkan kembali. Ya itu tadi, orang lain juga tak mengembalikan, kok. Sederhana.

Di kemudian hari tokoh ini mendirikan partai, mencalonkan diri jadi presiden, tapi kalah telak di pemilu. Sekarang sudah jarang terdengar namanya. Tapi anak didiknya di lembaga penelitian tadi masih "jadi orang". Ada yang jadi petinggi DPR, pejabat di bidang tenaga kerja, juga staf khusus Presiden.

Tak jelas apa yang dihasilkan dari sesuatu yang disebut untuk kepentingan bangsa tadi. Dari sepak terjang mereka terlihat bahwa mereka tak berbeda dengan orang-orang sebelumnya. Mereka berebut kuasa, lalu memperkaya diri. Makanya saya fikir layak kalau saya tambah huruf t di belakang kata bangsa itu. Untuk mereka, ini lebih pas.

Sejak itu saya selalu skeptis pada organisasi yang sejak awal berkoar-koar soal kepentingan bangsa. Terlebih bila sejak awal sudah memanfaatkan fasilitas negara secara tak patut, dan dekat-dekat dengan petinggi negara dalam setiap langkahnya


Hasanudin Abdurakhman

Menyontek, Masalah Moral atau Mekanisme Pertahanan Diri?

Kejadian menyontek massal saat ujian akhir yang diketahui serta didiamkan oleh para guru, atau bahkan diorganisasi para guru sering dikaitkan dengan masalah moral, khususnya kejujuran. Tapi saya sendiri bertanya, apakah memang masalahnya seserius itu? Atau, patutkah mereka dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang salah?

Saya jadi teringat pada kejadian saat saya ujian akhir SMP. Saya bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ini adalah sekolah setingkat SMP yang berada di bawah Departemen Agama. Kurikulumnya mengandung banyak pelajaran agama. Di sekolah umum pelajaran agama hanya satu pelajaran. Di madrasah kami belajar lebih banyak materi pelajaran agama, mencapai 40% dari total pelajaran. Selebihnya kami juga belajar mata pelajaran umum sebagaimana di sekolah lain.

Selain porsi waktu belajar untuk pelajaran umum berkurang karena dipakai untuk pelajaran agama, guru-guru yang mengajar mata pelajaran tersebut juga lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan guru-guru di sekolah umum. Mereka umumnya adalah lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA), sekolah setingkat SMA yang ditujukan untuk mendidik guru agama. Tentu mereka tak dididik bidang pelajaran umum secara memadai. Guru-guru saya tadi terpaksa mengajarkan pelajaran umum karena guru untuk pelajaran tersebut tidak tersedia.

Bisa dibayangkan bagaimana rendahnya mutu pelajaran di sekolah kami. Saya ingat, beberapa guru saya benar-benar hanya membaca buku teks di depan kelas saat mengajar. Saya sebagai murid tersiksa dengan cara mengajar seperti itu. Namun setelah dewasa saya juga bisa merasakan bahwa guru saya pun juga tersiksa karena harus mengajarkan mata pelajaran yang dia sendiri tidak paham.

Begitulah. Kami belajar dengan segala kekurangan. Tapi anehnya, di saat ujian akhir kami harus mengikuti ujian sekolah umum untuk pelajaran umum. Tentu saja kami keteteran. Tepatnya, hampir semua murid. Saya sendiri, dengan anugerah kecerdasan yang di atas rata-rata, bisa mengatasi masalah. Saya bisa menempuh ujian dengan percaya diri.

Lalu terjadilah hal ini. Dalam mata ujian pertama saya bisa menyelesaikan soal-soal sebelum waktu yang tersedia habis. Saya perhatikan teman-teman di sekitar saya. Mereka terlihat putus asa. Spontan saya isi jawaban di kertas soal milik saya. Lalu saya tukarkan dengan kertas jawaban milik teman di sebelah saya. Dia menyontek jawaban saya. Begitu dia selesai, kertas itu menyebar ke teman-teman yang lain. Ada pula yang mau sukarela menyalin jawaban itu ke kertas soal lain, sehingga kegiatan menyontek itu menjadi lebih luas skalanya.

Awalnya kami melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan guru. Tapi kemudian saya tahu bahwa guru-guru saya memiliki perasaan yang sama dengan saya. Mereka mengambil langkah pura-pura tak tahu. Diam-diam ada guru yang datang memeluk saya, mengucapkan terima kasih atas apa yang saya lakukan.

Apakah dengan demikian guru-guru saya mengajarkan ketidakjujuran?

+++

Sistem ujian kita saat ini menurut saya punya masalah yang sama. Anak-anak dihadapkan pada soal ujian dengan standar yang sama, padahal saat belajar mereka tidak menerima pelajaran dengan standar yang sama. Tiba-tiba di akhir sekolah mereka harus berhadapan dengan ancaman: tidak lulus sekolah! Ini bukan perkara mudah, baik bagi anak, orang tua, maupun guru. Tidak lulus bisa jadi berarti bahwa anak-anak akan kehilangan masa depan. Orang tua tentu tak ingin itu terjadi. Demikian pula guru-guru.

Saat sistem ujian nasional diterapkan beberapa tahun yang lalu ada sekolah yang murid-muridnya bahkan gagal 100%. Ini aib bagi sekolah dan guru. Lalu guru-guru ditekan. Saat orang ditekan, yang muncul adalah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme ini cenderung tidak peduli pada berbagai batasan moral. Itu alami. 

Bagi saya, kasus-kasus kecurangan dalam ujian tak sepenuhnya soal moral. Terlalu sederhana menuduh para guru itu tak bermoral. Mereka hanya berusaha bertahan hidup pada sebuah sistem yang tak peduli pada mereka, juga pada murid-murid.

Saya tak pernah habis pikir, mengapa perlu ada standar nasional untuk ujian. Apa sih yang hendak kita ukur dari ujian? Kalau kita mengajarkan 70, layakkah kita berharap hasilnya adalah 80? Tidak. Faktanya ada sekolah yang mampu mengajarkan mata pelajaran dengan kemungkinan pelajar dapat menyerapnya sebesar 80-90% karena berbagai dukungan guru berkualitas serta fasilitas belajar yang memadai. Tapi pada saat yang sama ada sekolah yang hanya mampu mencapai 40-50%. Tapi mengapa standar kelulusannya harus sama?

Bagi saya yang membuat sistem seperti itulah yang tak bermoral.


Hasanudin Abdurakhman