Saya kerap menerima SMS, berisi pemberitahuan bahwa saya mendapatkan hadiah sekian puluh juta, bla bla. Tentu saja SMS seperti ini saya abaikan dan saya hapus. Tapi kadang saya iseng juga, saya balas. "Mau nipu aja nggak kreatif. Yang beginian mah udah basi. Pakai cara baru dong."
Tapi penipu memang seperti tak pernah kehabisan akal. Suatu hari saya memasang iklan untuk menjual rumah saya di Pontiak di sebuah koran Nasional. Pagi-pagi sudah ada telepon yang menyatakan hendak membeli. Dia mengaku sedang berada di Pontianak. Terjadi tawar-menawar sejenak, lalu deal. "Gampang amat?" fikir saya. Lalu penelepon itu minta nomor rekening saya untuk mengirimkan tanda jadi, agar rumah itu tak saya tawarkan ke orang lain. Saat saya cek transfernya tidak ada. Saya telepon dia, dia mengatakan ada gangguan teknis di bank. Lalu dia berpura-pura mengalihkan telepon ke petugas bank, dan petugas gadungan ini mengarahkan saya untuk mentransfer uang ke rekening tertentu. Sialan.
Beberapa minggu yang lalu di keluarga istri saya ada bisik-bisik soal hotel mewah tapi murah meriah, nyaris gratis. Terbiasa dengan trik penipu yang aneh-aneh, saya cuma senyum-senyum saat ditawari. Belakangan saya diberi tahu bahwa untuk dapat voucher menginap di hotel tersebut kita "hanya" perlu membayar PPN. Berapa? Sekitar 1 juta rupiah per malam. Hahahahahaha. Kalau PPN 1 juta, artinya tarif menginap di hotel itu 10 juta. Halah. Itu cuma cara orang jualan kamar hotel bertarif 1 juta per malam.
Saya lalu teringat kejadian di sebuah mal. Istri saya diberi kotak undian, dan disuruh mengambil nomor. Ternyata dia mendapatkan hadiah sebuah blender atau apa gitu. Lalu diminta datang ke konter untuk proses administrasi. Tak lama kemudian dia datang ke saya memberi penjelasan bahwa dia harus bayar PPN sebesar 600 ribu (kalau nggak salah). Saya bilang, "Sayang, itu seharga sebuah blender, alias kita disuruh beli blender." Istri saya tertawa ngakak.
Macam-macam lagi cara orang untuk menipu. Intinya, mereka memanfaatkan kegembiraan kita yang melebihi kadar, karena kita percaya bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan. Lalu kita tak lagi berhitung dengan benar.
Jadi, siapa yang menipu kita? Ya, nafsu kita sendiri.
Hasanudin Abdurahman
No comments:
Post a Comment