Kejadian menyontek massal saat ujian akhir yang diketahui serta didiamkan oleh para guru, atau bahkan diorganisasi para guru sering dikaitkan dengan masalah moral, khususnya kejujuran. Tapi saya sendiri bertanya, apakah memang masalahnya seserius itu? Atau, patutkah mereka dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang salah?
Saya jadi teringat pada kejadian saat saya ujian akhir SMP. Saya bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ini adalah sekolah setingkat SMP yang berada di bawah Departemen Agama. Kurikulumnya mengandung banyak pelajaran agama. Di sekolah umum pelajaran agama hanya satu pelajaran. Di madrasah kami belajar lebih banyak materi pelajaran agama, mencapai 40% dari total pelajaran. Selebihnya kami juga belajar mata pelajaran umum sebagaimana di sekolah lain.
Selain porsi waktu belajar untuk pelajaran umum berkurang karena dipakai untuk pelajaran agama, guru-guru yang mengajar mata pelajaran tersebut juga lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan guru-guru di sekolah umum. Mereka umumnya adalah lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA), sekolah setingkat SMA yang ditujukan untuk mendidik guru agama. Tentu mereka tak dididik bidang pelajaran umum secara memadai. Guru-guru saya tadi terpaksa mengajarkan pelajaran umum karena guru untuk pelajaran tersebut tidak tersedia.
Bisa dibayangkan bagaimana rendahnya mutu pelajaran di sekolah kami. Saya ingat, beberapa guru saya benar-benar hanya membaca buku teks di depan kelas saat mengajar. Saya sebagai murid tersiksa dengan cara mengajar seperti itu. Namun setelah dewasa saya juga bisa merasakan bahwa guru saya pun juga tersiksa karena harus mengajarkan mata pelajaran yang dia sendiri tidak paham.
Begitulah. Kami belajar dengan segala kekurangan. Tapi anehnya, di saat ujian akhir kami harus mengikuti ujian sekolah umum untuk pelajaran umum. Tentu saja kami keteteran. Tepatnya, hampir semua murid. Saya sendiri, dengan anugerah kecerdasan yang di atas rata-rata, bisa mengatasi masalah. Saya bisa menempuh ujian dengan percaya diri.
Lalu terjadilah hal ini. Dalam mata ujian pertama saya bisa menyelesaikan soal-soal sebelum waktu yang tersedia habis. Saya perhatikan teman-teman di sekitar saya. Mereka terlihat putus asa. Spontan saya isi jawaban di kertas soal milik saya. Lalu saya tukarkan dengan kertas jawaban milik teman di sebelah saya. Dia menyontek jawaban saya. Begitu dia selesai, kertas itu menyebar ke teman-teman yang lain. Ada pula yang mau sukarela menyalin jawaban itu ke kertas soal lain, sehingga kegiatan menyontek itu menjadi lebih luas skalanya.
Awalnya kami melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan guru. Tapi kemudian saya tahu bahwa guru-guru saya memiliki perasaan yang sama dengan saya. Mereka mengambil langkah pura-pura tak tahu. Diam-diam ada guru yang datang memeluk saya, mengucapkan terima kasih atas apa yang saya lakukan.
Apakah dengan demikian guru-guru saya mengajarkan ketidakjujuran?
+++
Sistem ujian kita saat ini menurut saya punya masalah yang sama. Anak-anak dihadapkan pada soal ujian dengan standar yang sama, padahal saat belajar mereka tidak menerima pelajaran dengan standar yang sama. Tiba-tiba di akhir sekolah mereka harus berhadapan dengan ancaman: tidak lulus sekolah! Ini bukan perkara mudah, baik bagi anak, orang tua, maupun guru. Tidak lulus bisa jadi berarti bahwa anak-anak akan kehilangan masa depan. Orang tua tentu tak ingin itu terjadi. Demikian pula guru-guru.
Saat sistem ujian nasional diterapkan beberapa tahun yang lalu ada sekolah yang murid-muridnya bahkan gagal 100%. Ini aib bagi sekolah dan guru. Lalu guru-guru ditekan. Saat orang ditekan, yang muncul adalah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme ini cenderung tidak peduli pada berbagai batasan moral. Itu alami.
Bagi saya, kasus-kasus kecurangan dalam ujian tak sepenuhnya soal moral. Terlalu sederhana menuduh para guru itu tak bermoral. Mereka hanya berusaha bertahan hidup pada sebuah sistem yang tak peduli pada mereka, juga pada murid-murid.
Saya tak pernah habis pikir, mengapa perlu ada standar nasional untuk ujian. Apa sih yang hendak kita ukur dari ujian? Kalau kita mengajarkan 70, layakkah kita berharap hasilnya adalah 80? Tidak. Faktanya ada sekolah yang mampu mengajarkan mata pelajaran dengan kemungkinan pelajar dapat menyerapnya sebesar 80-90% karena berbagai dukungan guru berkualitas serta fasilitas belajar yang memadai. Tapi pada saat yang sama ada sekolah yang hanya mampu mencapai 40-50%. Tapi mengapa standar kelulusannya harus sama?
Bagi saya yang membuat sistem seperti itulah yang tak bermoral.
Hasanudin Abdurakhman
No comments:
Post a Comment