Tuesday, October 28, 2014

Nobody's Child

Tahun 1987 menjelang kuliah di UGM saya kebetulan hadir di suatu acara (kalau tak salah halal bi halal) masyarakat Kalimantan Barat di Jakarta. Para mahasiswa asal Kal-Bar yang berada di Jakarta terlibat dalam kepanitiaan. Saya waktu itu kebetulan menumpang sejenak di asrama daerah, diikutkan pula sebagai penyambut tamu. Orang-orang penting hadir pada acara itu, termasuk gubernur beserta istrinya.
Dalam acara ramah tamah, gubernur dan istri berkeliling menyapa para mahasiswa. Beberapa tampak sudah akrab dengan mereka. Saya paham, karena kebanyakan dari mereka adalah anak orang-orang penting di daerah kami. Ada yang pejabat pemerintah, tentara, serta pengusaha. Beberapa yang belum dikenal oleh kedua orang penting itu ditanyai, "Kamu anak siapa?" Mereka dengan sopan menjawab, "Saya anak Pak Anu." Gubernur dan istrinya kemudian berkomentar ramah soal orang tua mahasiswa tadi.
Tibalah giliran saya. Istri gubernur dengan ramah menanyai saya.
"Kamu anak siapa?"
"Bapak saya Abdurakhman?"
"Pak Abdurakhman mana ya? Dinas di mana?"
"Tidak dinas, Bu. Bapak saya petani."
Istri gubernur kehilangan kata-kata untuk berkomentar. Dia cuma berguman "Oooo", kemudian berlalu.
Kalau mau diukur dengan jabatan ataupun harta, saya memang bukan anak siapa-siapa. Ayah saya petani, sekolah hanya sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Emak bahkan tak pernah sekolah sama sekali. Saya memulai hidup saya dari tempat paling dasar.
Di sekitar kita, ada banyak orang seperti saya, nobody's child. Orang-orang seperti saya adalah orang yang tertinggal beberapa langkah dalam hal akses. Saat beberapa orang hanya memerlukan satu panggilan telepon atau satu kunjungan dari bapaknya untuk bisa mendapatkan bantuan gubernur, bagi saya bantuan dari gubernur nyaris mustahil. Maka orang-orang seperti saya harus benar-benar istimewa untuk menjadi "seseorang".
Perlukah kita yang bukan anak siapa-siapa ini berkecil hati? Tidak. Dari pengalaman keseharian kita bisa melihat bahwa modal awal bukanlah segala-galanya untuk mencapai sukses. Sebenarnya sukses pun tidak diukur dari berapa tinggi tempat seseorang berdiri. Sukses diukur dari seberapa jauh seseorang telah naik. Tidak hanya itu. Sukses juga akan lebih indah bila dilihat pula jalan apa yang sudah ditempuh oleh seseorang untuk naik sampai ke posisi tertentu. Lebih penting lagi, apa yang kemudian diperbuat seseorang ketika ia sudah sampai pada posisi tertentu.
Hari-hari ini kita melihat ada beberapa orang yang sepertinya tak perlu banyak berkeringat untuk bisa berdiri pada posisi tertentu, karena mereka adalah keturunan orang penting. Sekilas hal itu bisa membuat iri. Tapi cobalah lihat lagi. Mereka boleh jadi hanyalah orang yang jalan di tempat. Tak ada peningkatan dalam hidup mereka. Alih-alih, boleh jadi mereka adalah orang yang sedang merosot.
Tentu ada di antara mereka yang mampu menapak lebih tinggi lagi. Maka perhatikanlah bahwa hanya orang-orang yang berkeringatlah yang mampu melakukan itu. Untuk naik sejumlah anak tangga diperlukan kerja keras yang sama, tak peduli dari mana kita memulainya.
Hari ini dan besok saya berinteraksi dengan sejumlah orang luar biasa, yang tergabung dalam Forum Peneliti Muda Indonesia (ForMIND). Sebagian besar dari mereka ini adalah orang-orang yang sudah menorehkan berbagai prestasi di bidang riset. Ada yang berlatar belakang seperti saya, anak petani kampung. Namun ada pula beberapa yang berasal dari keluarga terpandang.
Ketika saya duduk bersama mereka, tak penting lagi anak siapa mereka. Tak ada bekas tinggalan orang tua dalam rekam jejak mereka. Mereka hidup di dunia di mana hanya kerja diri sendirilah yang dihitung orang.
Saya merasa sangat bahagia bisa berkenalan dan berkumpul dengan orang-orang luar biasa ini. Kebahagiaan kecil saya ini membasuh "luka" di hati saya setelah beberapa hari ini melihat anak-anak orang penting yang tak jelas apa kemampuan dan prestasinya, namun bisa menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Luka saya bukan karena saya merasa bahwa saya lebih berhak. Luka saya lebih karena sedih dan kasihan melihat mereka berusaha mati-matian meyakinkan publik bahwa mereka layak berada di situ. Kasihan, karena mereka hanya sanggup berusaha meyakinkan orang dengan omongan, bukan dengan tindakan. Di ujung cerita, mungkin orang akan mengenang mereka sebagai "Anak Si Anu" belaka. Atau bahkan mereka akan jadi orang-orang yang terlupakan.

Hasanudin Abdurakhman

Cak Nun

"Yang mana yang harus kita lakukan lebih banyak? minta maaf sebanyak-banyaknya atau menyiapkan per-maaf-an sebanyak-banyaknya?" 
#Cak Nun

Yakin

Allah selalu menyayangi kita, seberapa kalipun kita berbuat salah, seberapa besar dosa kita. Allah tak pernah menolak ketika kita meminta kesempatan lagi untuk untuk bertobat.
Dia selalu percaya dan yakin bahwa kita akan menjadi pribadi yang lebih baik.

Lalu, kenapa kamu tidak yakin pada-Nya?

Tuesday, October 21, 2014

Sungai

nemu postingan lama saya di ISK hahaha


pencemaran disungai wulan (sungai perbatasan kudus demak) telah merugikan banyak pembudidaya ikan daerah demak dan kudus. selama ini pemda menduga penyebab utamanya hanya limbah pabrik, shg pemda selama ini hanya fokus kelimbah dr pabrik dan lbh memperketat pengawasan pd pabrik2 yg membuang limbahnya kesungai wulan saja dalam penanganan pencemaran tsb, tp sy rasa pemerintah telah kecolongan dalam hal ini krn menurut saya penyebab pencemaran tersebut bukan hanya krn limbah pabrik saja seperti yg sekarang disorot pemda, tp juga karena aktivitas mengobat (meracun) ikan oleh warga disekitaran jembatan tanggulangin yg rutin meracun ikan.
saya dpt menyimpulkan seperti itu krn sekitar sebulan lalu saat saya sedang lewat jembatan tanggul angin ada banyak warga yg beramai menyerok ikan yg telah diobat, krn ingin tau sampai mana dampaknya, besoknya saya pergi ke desa setrokalangan untuk mengecek apakah dampaknya sampai kesana atau tidak, dan ternyata ikan2 disana banyak yg mati krn racun, hal ini diperkuat oleh keterangan warga setrokalangan saat saya bertanya "lho pak niki ulam e kok do mati?. beliau menjawab, "niku mas, bar diracun daerah wetan nek ora teko tanggulangin yo karang anyar",. saya yakin dampaknya bukan cuma ke desa setrokalangan saja, tp pasti lbh keutara lagi, bahkan bisa jd sampai kab jepara, tp saya belum sempat menyisirnya lbh keutara lagi. kalau dibiarkan, bukan ikan dan satwa air lainnya juga bisa punah, padahal sungai wulan adalah sungai paling potensial dikabupaten kudus.
pesan saya untuk masyarakat mbok yo tulung kesadarannya, dan untuk pemda dan aparat kepolisian, tolong diperketat lagi pengawasan tindakan pidana seperti ini.
cintai alammu, Tuhan akan mencintaimu.
semoga tidak ada yg lupa tugas manusia sbg khalifah dibumi ini.

Monday, October 20, 2014

Adnan Buyung Nasution, bagian dari mafia hukum?

Bila ingat kasus BLBI otomatis saya ingat Sjamsul Nursalim. Hingga saat ini Sjamsul masih terjerat kasus Wanprestasi sebesar Rp 29 triliun. Ingat, kasus Century yang heboh itu cuma melibatkan dana Rp 6,7 triliun. Sjamsul sendiri masih berada di Singapura. Sudah 9 tahunan dia berada di sana dan enggan pulang. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.

Mari kita ingat-ingat kasusnya. Tahun 2001 Sjamsul ditahan oleh Kejaksaan Agung. Lalu keluarlah jurus yang hingga saat ini masih ampuh untuk menghindari jerat hukum, yaitu sakit. Sjamsul minta izin berobat ke Jepang, dan diizinkan Kejaksaan Agung. Dan seperti banyak kasus lain, Sjamsul tidak kembali. Dia ngacir ke negeri jahanam, Singapura.

Majalah TEMPO (kalau tidak salah) pernah melaporkan kondisi Sjamsul. Dia „memang menjalani rawat inap“ di sebuah rumah sakit mewah. Terdaftar di situ sebagai pasien. Tapi dia tak selalu ada di situ. Dia lebih sering tinggal di apartemen. Artinya dia tidak sakit, sebenarnya. Bodoh kan kita ini bisa dikibuli Sjamsul?

Masalahnya, bodohkah seorang pengacara kondang bernama Adnan Buyung Nasution? Dialah pengacara yang mendampingi Sjamsul tahun 2001. Bahkan hingga saat ini Sjamsul masih klien di kantornya (mohon koreksi bila keliru). Saat itulah Sjamsul pergi ke luar negeri dan tak kembali.
Kita bisa bayangkan, siapa yang mengurus izin kepergian Sjamsul? Ya, pasti Buyung lah. Bagaimana bisa? 

Bagaimana bisa seorang pengacara, kampiun penegak hukum, bisa dengan mudah dikibuli dengan alasan sakit? Bukan baru sekali ini orang kabur dengan alasan pergi berobat. Tidakkah Buyung sadar itu? Rasanya tidak mungkin kalau Buyung tidak sadar bahwa alasan berobat sangat mungkin digunakan Sjamsul untuk kabur dari hukum. Lalu kenapa Buyung membantu urusan pelarian Sjamsul?

Arthalita. Kita masih ingat namanya. Dialah perempuan yang dihukum karena menyuap Jaksa Urip. Untuk apa? Untuk kasus Sjamsul. Beberapa hari sebelumnya kejaksaan mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa Sjamsul tidak melanggar hukum. Ada bukti rekaman yang menunjukkan bahwa ada pejabat yang lebih tinggi terlibat, di antaranya Kemas Yahya Rahman, Jaksa Agung Muda waktu itu. Amar keputusan pengadilan menegaskan hal itu.

Sekarang orang heboh bicara soal mafia hukum. Hanya orang bodoh yang akan berkata bahwa tidak ada mafia dalam kasus Sjamsul. Begitu terang benderang kasusnya, tapi begitu gelap penanganannya. Lalu, di mana posisi Buyung? Apakah dia bagian dari mafia itu? Entahlah.

Yang jelas Buyung berperan dalam pelarian Sjamsul. Meski secara hukum dia bisa mengelak, secara moral Buyung harus bertanggung jawab. Dia yang membantu Sjamsul kabur, dia pula yang harus memastikan Sjamsul kembali untuk menjalani proses hukum. 

Di mata saya, Buyung hanyalah seorang pengacara. Dia bukan pahlawan. 

Hasanudin Abdurakhman 6 April 2010

Poligami, masuk surga

Dua bulan yang lalu saya ketemu Anies Baswedan di kantornya, Yayasan Indonesia Mengajar di Kebayoran lama. Hadir di situ beberapa teman lain, umumnya teman main waktu masih di Yogya dulu. Obrolan ringan melantur sampai ke urusan poligami. Dan Anies menceritakan dua joke. Kali ini saya tulis satu saja dulu.

+++
Alkisah ada dua orang lelaki. Yang satu punya istri lebih dari satu, alias poligami. Yang satu lagi tipe lelaki yang setia pada satu istri. Setelah dihisab, ternyata lelaki yang poligami berhak masuk surga, sedangkan yang setia masuk neraka. Proteslah lelaki yang masuk neraka itu.

"Tuhan, ini keputusan yang tak adil. Setia pada istriku, memperlakukannya dengan baik. Sedangkan dia, dia mengkhianati istrinya. Kenapa Kau anggap dia lebih baik?"

"Ini bukan soal perilaku, tapi ini soal yang lebih fundamental, yaitu soal ketaatan."

"Apa maksudMu? Sepanjang hidup aku taat padaMu."

"Begini. Yang berpoligami itu, dia taat padaKu sepenuhnya. Utuh. Tak ada yang dia takuti selain Aku."

"Akupun demikian, ya Tuhan."

"Ah, tidak. Kau lebih takut pada istrimu. Makanya kau tak berpoligami."

HA

Korupsi dan Politik Sektarian

Sekitar tahun 1993 Amien Rais berbicara di depan warga Muhammadiyah di Pontianak, kampung saya. Dia mengabarkan kondisi UII (istilah dia ketika itu), umat Islam Indonesia. Amien berkata kurang lebih begini. „Mencermati komposisi kabinet yang terbaru kita bisa bernafas lega. Di masa lalu posisi-posisi penting di bidang perekunomian dikuasai oleh RMS (dikenal sebagai singkatan dari Republik Maluku Selatan), yaitu Radius (Prawiro), Mooy (Adrianus Mooy), Sumarlin. Kini yang berkuasa adalah Afif (Saleh Afif), Mar’ie (Muhammad) dan Fuad (Bawazier), disingkat AMF. Yang bisa juga kita panjangkan menjadi Arab Mengurus Fulus.“ kata Amien sambil bercanda.

Pada intinya Amien sedang mengabarkan adanya perubahan dalam peta politik nasional. Apa perubahannya? Bahwa orang-orang Islam mulai diberi tempat di posisi strategis, yang selama ini justru dipegang oleh minoritas Kristen. Perubahan itu dianggap sebagai perubahan seorang Soeharto, dari seorang abangan yang dekat dengan kalangan Kristen, menjadi seorang muslim yang saleh.

Di masa-masa itu umat Islam memang dianggap sedang berbulan madu dengan kekuasaan. Dimulai dengan berdirinya ICMI yang kemudian membawa dampak pada komposisi kabinet tadi, juga pergi hajinya Soeharto, sampai ke hal yang tetek bengek seperti pelajaran bahasa Arab di TVRI. Semua ini dianggap sebagai hadiah bagi umat Islam, setelah sekian lama mereka disudutkan dan dipinggirkan oleh pemerintah Orde Baru.

Masih dalam periode yang sama. Suatu ketika, sebagai aktivis Jamaah Shalahuddin UGM saya pernah pergi menjemput Lukman Harun ke bandara. Sepanjang perjalanan kami berbincang santai. Salah satu ungkapan Lukman adalah kritik terhadap para mahasiswa. „Kalian para mahasiswa sibuk meributkan kolusi keluarga Soeharto. Ingat, kalau anak-anak Soeharto kaya, mereka membangun mesjid. Nah, kalau Cina-cina itu, mereka membangun gereja!“

Di lain kali ada pula seorang cendekiawan yang bercerita bagaimana religiusnya seorang Tomy Soeharto.

Begitulah. Saya melihat orang-orang begitu gampang memaafkan perilaku korup, termasuk yang sudah menggurita seperti yang dilakukan oleh Soeharto dan keluarganya. Soeharto bisa dimaafkan hanya karena dia terlihat lebih dekat ke kelompok Islam.

Karena kesal dengan itu semua, saya mengejek Amien Rais ketika dia mulai menggulirkan isu suksesi. Tahun 1994 dalam sebuah diskusi di Gelanggang Mahasiswa UGM saya terang-terangan menyebut Amien Rais sebagai pahlawan kesiangan, karena sebelum itu Muhammadiyah menyatakan dukungan terhadap pencalonan kembali Soeharto. Amien ketika itu adalah salah seorang Ketua PP Muhammadiyah.

Apa yang membuat mereka jadi demikian pemaaf? Sektarianisme. Maaf kalau istilah ini tidak tepat. Saya tidak akan rumit-rumit dengan istilah. Sederhananya, sejauh kelompok saya diuntungkan, atau sedikit lebih diuntungkan, maka saya akan mendukung (Soeharto). Tidak peduli apakah kekuasaan Soeharto itu korup atau tidak.

Sejauh pengamatan saya, itu berlaku di setiap kalangan. Sedikit orang yang mau mengambil resiko melawan Soeharto. Yang banyak adalah yang bertarung di tingkat bawah, berebut kuasa di bawah kaki Soeharto.

Soeharto mengambil keuntungan dari pola fikir itu. Dia ciptakan hantu-hantu di bawahnya. Salah satunya adalah L.B. Moerdani. Orang Islam percaya bahwa Moerdani itu orang kuat, yang siap menggulingkan Soeharto kalau ada kesempatan. Dan dia Kristen. Artinya, kalau Soeharto tidak didukung, bisa-bisa dia dijatuhkan oleh Moerdani, dan Indonesia akan dipimpin oleh seorang Kristen.

Di berbagai tingkat pola fikirnya demikian. Seorang kepala daerah didukung hanya karena dia beragama Islam. Selebihnya bisa diabaikan. Seorang teman dekat saya, juru bicara sebuah organisasi Islam pernah memuji Sutioso, hanya karena Sutiyoso menutup lokalisasi Kramat Tunggak.

Tentu bukan orang tak sadar bahwa Soeharto itu korup. Sebagian mereka hanya berpuas dengan menjadi sub-ordinat di bawah Soeharto. Sebagian lain menikmati posisi sebagai bagian dari kekuasaan dengan memberi pembenaran atas kelakuan Soeharto dan kroninya. Lukman Harun, misalnya, terakhir tercatat sebagai anggota DPR dari Golkar hasil pemilu 1999. Kerabat dekatnya Din Syamsudin yang sekarang Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah salah seorang pengurus Golkar, dan pernah jadi Dirjen di salah satu departemen.

Jadi, kalau kita bertanya, mengapa korupsi demikian meraja lela, itu karena kita membiarkannya. Dan selama pola fikir kita masih sektarian seperti para pemimpin yang saya sebut tadi, maka korupsi tak akan bisa diberantas. Lebih tegas lagi hendak saya katakan bahwa musuh orang Islam Indonesia bukanlah orang Kristen, Hindu, Budha, tapi orang korup!


Hasanudin Abdurakhman

Tertipu oleh napsu kita sendiri

Saya kerap menerima SMS, berisi pemberitahuan bahwa saya mendapatkan hadiah sekian puluh juta, bla bla. Tentu saja SMS seperti ini saya abaikan dan saya hapus. Tapi kadang saya iseng juga, saya balas. "Mau nipu aja nggak kreatif. Yang beginian mah udah basi. Pakai cara baru dong."

Tapi penipu memang seperti tak pernah kehabisan akal. Suatu hari saya memasang iklan untuk menjual rumah saya di Pontiak di sebuah koran Nasional. Pagi-pagi sudah ada telepon yang menyatakan hendak membeli. Dia mengaku sedang berada di Pontianak. Terjadi tawar-menawar sejenak, lalu deal. "Gampang amat?" fikir saya. Lalu penelepon itu minta nomor rekening saya untuk mengirimkan tanda jadi, agar rumah itu tak saya tawarkan ke orang lain. Saat saya cek transfernya tidak ada. Saya telepon dia, dia mengatakan ada gangguan teknis di bank. Lalu dia berpura-pura mengalihkan telepon ke petugas bank, dan petugas gadungan ini mengarahkan saya untuk mentransfer uang ke rekening tertentu. Sialan.

Beberapa minggu yang lalu di keluarga istri saya ada bisik-bisik soal hotel mewah tapi murah meriah, nyaris gratis. Terbiasa dengan trik penipu yang aneh-aneh, saya cuma senyum-senyum saat ditawari. Belakangan saya diberi tahu bahwa untuk dapat voucher menginap di hotel tersebut kita "hanya" perlu membayar PPN. Berapa? Sekitar 1 juta rupiah per malam. Hahahahahaha. Kalau PPN 1 juta, artinya tarif menginap di hotel itu 10 juta. Halah. Itu cuma cara orang jualan kamar hotel bertarif 1 juta per malam.

Saya lalu teringat kejadian di sebuah mal. Istri saya diberi kotak undian, dan disuruh mengambil nomor. Ternyata dia mendapatkan hadiah sebuah blender atau apa gitu. Lalu diminta datang ke konter untuk proses administrasi. Tak lama kemudian dia datang ke saya memberi penjelasan bahwa dia harus bayar PPN sebesar 600 ribu (kalau nggak salah). Saya bilang, "Sayang, itu seharga sebuah blender, alias kita disuruh beli blender." Istri saya tertawa ngakak.

Macam-macam lagi cara orang untuk menipu. Intinya, mereka memanfaatkan kegembiraan kita yang melebihi kadar, karena kita percaya bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang menguntungkan. Lalu kita tak lagi berhitung dengan benar.

Jadi, siapa yang menipu kita? Ya, nafsu kita sendiri.


Hasanudin Abdurahman

Demi Kepentingan Bangsa (t)

Tahun 1990-an Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri. Saya waktu itu masih kuliah di UGM. Saya merasa dekat dengan organisasi ini karena beberapa tokohnya adalah dosen-dosen UGM yang sudah saya kenal secara akrab. Bahkan saya turut membantu pelaksanaan beberapa kegiatan ICMI di Yogyakarta.

Setelah berdiri di bawah ICMI kemudian lahir badan-badan lain. Ada koran, lembaga penelitan, bahkan kabarnya ICMI akan punya stasiun TV. Suatu ketika saya berkunjung ke Jakarta. Karena merasa dekat dengan ICMI saya sempatkan untuk singgah di kantor lembaga penelitian yang didirikan ICMI tadi. Dari pembicaraan yang beredar lembaga ini diniatkan untuk menyaingi CSIS, sebuah lembaga think tank milik "kelompok sana". CSIS dianggap salah satu biang keladi dari berbagai kebijakan pemerintah Orde Baru yang dinilai tidak pro umat Islam. Artinya, lembaga penelitian milik ICMI ini tadi akan menjadi pembalik sejarah, merumuskan kebijakan-kebijakan yang pro umat Islam, yang kebanyakan masih kaum dhuafa itu.

Kantor lembaga penelitian ini ada di salah satu ruangan di gedung BPPT di Jl. Thamrin. Tak perlu lah heran, karena Ketua BPPT waktu itu adalah Habibie, yang juga adalah Ketua ICMI. Dan yang saya temukan di kantor itu lebih dari yang saya duga. Semua peralatan, meja kursi, sampai mesin tik, saya lihat merupakan barang-barang inventaris BPPT. Saya pulang ke Yogya sambil terheran-heran, tentu saja. Tapi saya masih berniat melakukan konfirmasi.

Tak lama setelah itu, salah seorang petinggi lembaga tadi datang ke Yogya. Seperti biasa kami yang muda-muda dikumpulkan, diajak berdiskusi. Nah, kesempatan itu saya manfaatkan untuk konfirmasi, bagaimana ceritanya sebuah lembaga non-pemerintah bisa mendapat fasilitas dari lembaga pemerintah. Dalam fikiran saya, harus ada pemisahan yang tegas antara kepentingan orang-orang pemerintah yang kebetulan jadi pengurus ICMI, dengan posisi/jabatan mereka di pemerintah. Saya masih berharap dapat jawaban yang menggembirakan, misalnya bahwa semua fasilitas itu disewa oleh ICMI dari BPPT.

Tapi jawaban yang saya dapatkan sungguh mengecewakan. Petinggi ICMI, yang sekaligus pimpinan lembaga penelitian tadi dengan nada marah, juga melecehkan saya (menyebut saya tidak cerdas), membantah prinsip saya. "Kamu itu sama sekali tidak cerdas. Kami ini bekerja untuk kepentingan bangsa. Apa salahnya kalau kami pakai fasilitas milik negara? Kamu tahu tidak, orang-orang lain sudah lebih dulu menggunakan cara-cara seperti ini. Justru sekarang ini giliran kita!!!"

Walhasil ketika itu saya jadi bahan tertawaan dan cemoohan forum. Tapi saya jadi sadar pada satu hal, bahwa lembaga dan orang-orang semacam ini tak perlu lagi saya dekati. Sejak itu saya menjauh dari ICMI.

Waktu berjalan. Tokoh-tokoh ICMI banyak yang jadi menteri. Tokoh yang saya sebut tadi akhirnya kebagian juga di kabinet Habibie. Sejak awal dia memang mengumbar info bahwa banyak uang negara yang dikucurkan dalam bentuk kredit besar-besar, dan banyak yang macet. Program kerja dia sebagai menteri adalah "membagikan" uang negara untuk rakyat kecil, dalam bentuk kredit juga. Prinsipnya tak jauh beda dengan urusan kursi meja tadi. Orang lain sudah dapat, kini giliran kita.

Kredit yang dikucurkan memang tak diharapkan kembali. Ya itu tadi, orang lain juga tak mengembalikan, kok. Sederhana.

Di kemudian hari tokoh ini mendirikan partai, mencalonkan diri jadi presiden, tapi kalah telak di pemilu. Sekarang sudah jarang terdengar namanya. Tapi anak didiknya di lembaga penelitian tadi masih "jadi orang". Ada yang jadi petinggi DPR, pejabat di bidang tenaga kerja, juga staf khusus Presiden.

Tak jelas apa yang dihasilkan dari sesuatu yang disebut untuk kepentingan bangsa tadi. Dari sepak terjang mereka terlihat bahwa mereka tak berbeda dengan orang-orang sebelumnya. Mereka berebut kuasa, lalu memperkaya diri. Makanya saya fikir layak kalau saya tambah huruf t di belakang kata bangsa itu. Untuk mereka, ini lebih pas.

Sejak itu saya selalu skeptis pada organisasi yang sejak awal berkoar-koar soal kepentingan bangsa. Terlebih bila sejak awal sudah memanfaatkan fasilitas negara secara tak patut, dan dekat-dekat dengan petinggi negara dalam setiap langkahnya


Hasanudin Abdurakhman

Menyontek, Masalah Moral atau Mekanisme Pertahanan Diri?

Kejadian menyontek massal saat ujian akhir yang diketahui serta didiamkan oleh para guru, atau bahkan diorganisasi para guru sering dikaitkan dengan masalah moral, khususnya kejujuran. Tapi saya sendiri bertanya, apakah memang masalahnya seserius itu? Atau, patutkah mereka dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang salah?

Saya jadi teringat pada kejadian saat saya ujian akhir SMP. Saya bersekolah di madrasah tsanawiyah. Ini adalah sekolah setingkat SMP yang berada di bawah Departemen Agama. Kurikulumnya mengandung banyak pelajaran agama. Di sekolah umum pelajaran agama hanya satu pelajaran. Di madrasah kami belajar lebih banyak materi pelajaran agama, mencapai 40% dari total pelajaran. Selebihnya kami juga belajar mata pelajaran umum sebagaimana di sekolah lain.

Selain porsi waktu belajar untuk pelajaran umum berkurang karena dipakai untuk pelajaran agama, guru-guru yang mengajar mata pelajaran tersebut juga lebih rendah kualitasnya dibandingkan dengan guru-guru di sekolah umum. Mereka umumnya adalah lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA), sekolah setingkat SMA yang ditujukan untuk mendidik guru agama. Tentu mereka tak dididik bidang pelajaran umum secara memadai. Guru-guru saya tadi terpaksa mengajarkan pelajaran umum karena guru untuk pelajaran tersebut tidak tersedia.

Bisa dibayangkan bagaimana rendahnya mutu pelajaran di sekolah kami. Saya ingat, beberapa guru saya benar-benar hanya membaca buku teks di depan kelas saat mengajar. Saya sebagai murid tersiksa dengan cara mengajar seperti itu. Namun setelah dewasa saya juga bisa merasakan bahwa guru saya pun juga tersiksa karena harus mengajarkan mata pelajaran yang dia sendiri tidak paham.

Begitulah. Kami belajar dengan segala kekurangan. Tapi anehnya, di saat ujian akhir kami harus mengikuti ujian sekolah umum untuk pelajaran umum. Tentu saja kami keteteran. Tepatnya, hampir semua murid. Saya sendiri, dengan anugerah kecerdasan yang di atas rata-rata, bisa mengatasi masalah. Saya bisa menempuh ujian dengan percaya diri.

Lalu terjadilah hal ini. Dalam mata ujian pertama saya bisa menyelesaikan soal-soal sebelum waktu yang tersedia habis. Saya perhatikan teman-teman di sekitar saya. Mereka terlihat putus asa. Spontan saya isi jawaban di kertas soal milik saya. Lalu saya tukarkan dengan kertas jawaban milik teman di sebelah saya. Dia menyontek jawaban saya. Begitu dia selesai, kertas itu menyebar ke teman-teman yang lain. Ada pula yang mau sukarela menyalin jawaban itu ke kertas soal lain, sehingga kegiatan menyontek itu menjadi lebih luas skalanya.

Awalnya kami melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, takut ketahuan guru. Tapi kemudian saya tahu bahwa guru-guru saya memiliki perasaan yang sama dengan saya. Mereka mengambil langkah pura-pura tak tahu. Diam-diam ada guru yang datang memeluk saya, mengucapkan terima kasih atas apa yang saya lakukan.

Apakah dengan demikian guru-guru saya mengajarkan ketidakjujuran?

+++

Sistem ujian kita saat ini menurut saya punya masalah yang sama. Anak-anak dihadapkan pada soal ujian dengan standar yang sama, padahal saat belajar mereka tidak menerima pelajaran dengan standar yang sama. Tiba-tiba di akhir sekolah mereka harus berhadapan dengan ancaman: tidak lulus sekolah! Ini bukan perkara mudah, baik bagi anak, orang tua, maupun guru. Tidak lulus bisa jadi berarti bahwa anak-anak akan kehilangan masa depan. Orang tua tentu tak ingin itu terjadi. Demikian pula guru-guru.

Saat sistem ujian nasional diterapkan beberapa tahun yang lalu ada sekolah yang murid-muridnya bahkan gagal 100%. Ini aib bagi sekolah dan guru. Lalu guru-guru ditekan. Saat orang ditekan, yang muncul adalah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme ini cenderung tidak peduli pada berbagai batasan moral. Itu alami. 

Bagi saya, kasus-kasus kecurangan dalam ujian tak sepenuhnya soal moral. Terlalu sederhana menuduh para guru itu tak bermoral. Mereka hanya berusaha bertahan hidup pada sebuah sistem yang tak peduli pada mereka, juga pada murid-murid.

Saya tak pernah habis pikir, mengapa perlu ada standar nasional untuk ujian. Apa sih yang hendak kita ukur dari ujian? Kalau kita mengajarkan 70, layakkah kita berharap hasilnya adalah 80? Tidak. Faktanya ada sekolah yang mampu mengajarkan mata pelajaran dengan kemungkinan pelajar dapat menyerapnya sebesar 80-90% karena berbagai dukungan guru berkualitas serta fasilitas belajar yang memadai. Tapi pada saat yang sama ada sekolah yang hanya mampu mencapai 40-50%. Tapi mengapa standar kelulusannya harus sama?

Bagi saya yang membuat sistem seperti itulah yang tak bermoral.


Hasanudin Abdurakhman

Hari Valentine dan Kristenisasi

"Hari Valentine itu adalah propaganda misionaris."

Itu status Facebook seorang teman saya. Saya lantas teringat tentang sebuah artikel yang saya baca belasan tahun yang lalu, tentang sejarah hari Valentine. Singkatnya, hari tersebut untuk mengenang seorang pendeta Kristen, dan kemudian menjadi perayaan ibadah Kristen. Merayakan hari Valentine sama dengan ikut serta dalam peribadatan Kristen, dan tentu saja terlarang dalam syariat Islam. Dan hari Valentine itu, menurut artikel tadi, memang dipopulerkan oleh kalangan Kristen untuk kepentingan kristenisasi. Hingga hari ini artikel seperti itu terus menyebar, dan disebarkan.

Saya tak tahu detil sejarah hari Valentine. Tapi ada banyak versi tentang ini. Bahkan ada versi yang menyebut bahwa legenda Valentine ini sudah ada jauh sebelum sejarah Kristen, sebagaimana Natal, Halloween, dan lain-lain. Perayaan itu merupakan perayaan kaum pagan yang mengalami proses kristenisasi, artinya dianggap (seolah-olah) perayaan itu adalah bagian dari ajaran Kristen. 

Perayaan Valentine kini lebih merupakan pesta hura-hura. Di antaranya bahkan dilakukan dengan melampaui batas. Tentu saja ini meresahkan kalangan agama, khususnya Islam. Bagi saya itu wajar, karena banyak dari perayaan hura-hura itu jauh dan menjauhkan orang dari nilai-nilai Islam.

Yang tak wajar adalah menisbatkan itu semua kepada kaum Kristen. Seolah kaum Kristen itu setuju dengan hura-hura itu. Seolah-olah segala macam hedonisme itu bersumber dari ajaran Kristen, dan mereka mempromosikannya. Padahal, yang saya lihat tidak demikian. Orang-orang Kristen yang saleh, anti pada itu semua, sebagaimana orang-orang Islam yang saleh. Perayaan Valentine sendiri banyak mendapat kritik di kalangan Kristen.

Menyedihkan bahwa kita jadi kehilangan arah. Kita bahkan tak tahu siapa musuh kita sebenarnya. Kebencian kita kepada orang Kristen (dan juga Yahudi) telah membuat kita menimpakan tuduhan kepada mereka atas apa saja yang tidak kita senangi. Dan itu kita lakukan dengan membohongi diri kita sendiri. Kita penuhi media dan ruang publik dengan informasi sesat dan fitnah.

Embuh............


Hasanudin Abdurakhman

Dzikir

Jangan bayangkan bahwa kita harus melakukan wirid selama 24 jam sehari, karena itu mustahil dilakukan. Kalau ada yang membayangkannya demikian, artinya dia telah memahami pengertian zikir secara keliru. Ya, kekeliruan pengertian semacam ini adalahcommon mistake dalam pemahaman terhadap Islam. Kita memang sering mengartikan zikir secara sempit sebagai wirid, yaitu dengan menyebut nama Allah secara verbal. Ini tidak terlalu salah, karena wirid memang salah satu bentuk zikir. Tapi perlu diingat bahwa zikir tidak hanya wirid, tapi jauh lebih luas dari itu pengertiannya.

Zikir, dalam bahasa Arabnya zikr, berarti ingat/mengingat. Zikir yang kita kenal adalah kependekan dari zikrullah, mengingat Allah. Mengingat Allah bisa dilakukan dengan menyebut namaNya secara berulang-ulang, seperti yang kita lakukan pada wirid. Tapi perlu diperhatikan, walaupun kita menyebut namaNya berulang-ulang tak otomatis berarti kita sedang mengingatNya. Bisa jadi pada saat menyebut namaNya, pikiran kita melayang ke hal-hal lain sehingga mulut kita hanya menjalankan fungsi refleknya, tidak lagi dituntun oleh kesadaran. Pada saat itu kita sudah tidak lagi sedang berzikir.

Zikir 24 jam sehari mengacu pada ayat Quran 2:191, “yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring……….”. Ayat ini mengisyaratkan kepada kita agar selalu berada dalam keadaan zikir, ingat kepada Allah, dalam keadaan apapun. Tidak cuma ketika kita sedang shalat, atau wirid. Juga tidak hanya ketika kita sedang di mesjid. Tapi setiap saat. Ketika kita sedang bekerja, makan, atau berbelanja. Bahkan ketika kita sedang bersenggama dengan istri kita. Ingat kepada Allah dalam pengertian mengingat eksistensi, kasih sayang, kebesaran, kekuasaanNya, dan lain-lain. Juga ingat bahwa Dia senantiasa mengawasi setiap tindak tanduk kita.

Inilah salah satu hikmah adanya tuntunan untuk berdoa setiap kita hendak memulai sesuatu. Setidaknya kita disunatkan untuk membaca basmalah. Doa-doa itu adalah zikir yang akan membuat kita senantiasa berada dalam keadaan mengingat Allah, apapun yang akan/sedang kita lakukan.
***
Dewasa ini negeri kita dipenuhi oleh berbagai ironi. Yang menonjol adalah ironi yang berkenaan dengan korupsi. Mengapa? Bayangkan saja, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini ternyata adalah negeri dengan tingkat korupsi paling parah di dunia. Uniknya, hal itu terjadi ketika, katanya, gairah untuk melaksanakan ajaran Islam meningkat pesat. Ini ditandai dengan ramainya forum-forum pengajian, atau penuhnya mushalla kantor pada waktu shalat fardhu.

Teman saya, orang Mesir yang menikah dengan wanita Indonesia, bercerita bagaimana petugas KUA minta “uang jasa” di luar jumlah yang ditentukan ketika dia menurus surat nikah di Jakarta. Padahal pada sandaran kursi petugas itu tergantung sehelai sajadah! Rekan yang lain bercerita bagaimana seorang petugas di kantor imigrasi memalakinya ketika dia sedang mengurus pembuatan paspor. Wajah petugas itu masih basah oleh air wudhu karena dia baru saja selesai shalat.

Dalam ilmu psikologi dikenal suatu penyakit jiwa, yang disebut split personality disorder, atau kepribadian ganda. Orang yang menderita penyakit ini bisa tampil dalam dua kepribadian yang berbeda sama sekali. Dia misalnya, suatu saat bisa tampil sebagai orang dewasa, yang arif dan bijak, tapi pada saat lain akan tampil sebagai anak kecil yang manja. Penyakit kepribadian ganda inilah yang banyak diderita oleh umat kita. Pada saat tertentu kita adalah hamba Allah, yang ruku’ dan sujud, menjalankan perintahNya. Tapi pada saat yang lain kita adalah hamba perut, hamba nafsu kita. Kita tunduk pada keinginan perut (dan sekitarnya), kita tunduk pada perintah nafsu kita. Pada saat itu kita lakukanlah hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Perlu kita ingat bahwa Islam itu bukan pilihan ganda. Kita tidak bisa memilih (melaksanakan) salah satu ajarannya, sambil meninggalkan yang lain. Bagi Allah kita adalah orang kafir yang sebenar-benarnya kalau kita melakukan hal itu (QS. 4: 150-151). Jadi, kita sebenarnya hanya punya dua pilihan: beriman secara total, atau kafir.
***
Penyakit kepribadian ganda ini adalah buah dari kegagalan kita dalam melakukan zikir 24 jam sehari tadi. Kita hanya ingat Allah pada saat-saat tertentu, sementara pada sebagian besar waktu kita, kita melupakanNya. Pada saat lupa itulah kita lupa pula bahwa Dia selalu mengawasi kita, mencatat setiap kejahatan kita. Kita juga lupa akan pedihnya siksaNya, sebagai balasan atas kejahatan kita.

Zikir 24 jam sehari adalah salah satu resep untuk kita agar bisa keluar dari krisis multidimensional yang kita hadapi sekarang. Kita harus mulai dari diri kita. Kita harus mulai menyembuhkan diri kita dari penyakit kepribadian ganda tadi. Kita harus mulai mengisi setiap detik dari hidup kita dengan zikir. Mari kita kontrol alam pikiran kita untuk senantiasa ingat kepada Allah.

Perlu pula kita ingat bahwa kita tidak boleh lengah sedikitpun. Bayangkan Anda sedang menyetir mobil atau naik motor, lalu pejamkan mata Anda selama sedetik saja. Apa yang akan terjadi? Kalau Anda beruntung mungkin tak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau Anda sedang naas, bisa jadi dalam waktu sedetik itu kendaraan Anda sudah menabrak tiang listrik.

Begitu pula hidup kita. Bisa jadi kelengahan satu detik kita akan mengubah hidup kita secara total. Sedetik ketika kita lengah lalu menilap uang kantor kita, bisa membuat kita kehilangan pekerjaan dan mendekam di penjara. Atau ketika kita memutuskan untuk berzina lalu hal itu menghancurkan keluarga kita atau masa depan kita. Dan masih banyak lagi contohnya.

Karenanya, berzikirlah setiap saat. Jangan sampai ada satu detikpun waktu kita yang berlalu tanpa zikir. Karena bisa jadi satu detik itu adalah satu detik yang mengubah hidup kita.

Hasanudin Abdurakhman

Jilbab

Di suatu pagi, dua puluh tahun yang lalu. Kami menembus keramaian pagi ibukota, saat manusia berhamburan dari rumah-rumah mereka, menuju tempat kerja. Tempat hidup mereka dipertaruhkan. Aku beserta dua orang temanku, Widyatmoyo dan M. Haris Widodo, berjejal kami berdiri di dalam bis kota yang penuh sesak. Menjelang pukul delapan pagi kami tiba di tempat yang kami tuju: gedung Depdikbud di Senayan.

Sejak turun di halte bis tadi aku sudah mulai tak tenang. Dadaku bergemuruh, jantungku berdegup kencang dari biasa. Kami sedang menuju suatu tempat penting: Kantor Mendikbud, dan berharap bertemu orang penting, yaitu Mendikbud sendiri. Aku membayangkan betapa beratnya hal itu. Besar kemungkinan di pintu depan kami sudah diusir petugas keamanan. Berbagai cara aku lakukan untuk menenangkan diri. Aku lihat kedua temanku juga tak tampak tenang. Di pintu pagar serentak kami mengenakan jaket almamater UGM yang tadi kami tenteng. Logo UGM yang tersulam di dada jaket sempat melintas di pandangaku saat aku mengenakannya. Entah mengapa kemudian ada sedikit rasa tenang setelah melihat logo itu. Ya, kami mahasiswa UGM, kami datang dari kampus terbaik, yang hanya dihuni oleh putra-putra terbaik bangsa ini. Berbekal kebanggan itu aku melangkahkan kaki dengan lebih percaya diri, menuju pintu depan kantor Mendikbud.

Tak seperti dugaanku. Kami tak perlu berdebat dengan petugas keamanan. Di pintu depan kami sudah ditunggu oleh seseorang berbaju safari, tangannya menggenggam sebuah buku agenda. Dia tersenyum ramah menyambut kami.

“Selamat datang, adik-adik. Saya Kepala Biro Humas Depdikbud.” sapanya memperkenalkan diri dan menyalami kami.

Kami heran dengan sambutan ini, namun segera tahu jawabnya. Kepala Biro tadi menunjukkan sebuah koran pagi, Berita Buana. Di halaman depan bagian bawah ada berita dengan judul, “Soal Jilbab, Hari ini Utusan Mahasiswa UGM Menghadap Mendikbud”. Petang kemarin sebelum berangkat dengan kereta api Senja Utama dari Yogya kami memang sempat berbincang dengan seorang wartawan tentang rencana keberangkatan kami. Di berita tersebut ditulis bahwa kami akan datang bertiga.

“Saya kaget bahwa kalian benar-benar datang bertiga. Biasanya kalau mahasiswa datang ke sini dua bis.” kata Kepala Biro tertawa. Lalau dia mengantar kami ke sebuah ruang rapat kecil. Di situ kami disuguhi dengan teh manis. Tak lama kemudian seseorang yang lain, berbaju safari dan berkacamata dengan bingkai plastik tebal berwarna hitam masuk ke ruangan. Dia duduk di meja di seberang tempat kami duduk.

“Perkenalkan, ini Bapak Enoch Markum, Direktur Kemahasiswaan Ditjen Dikti.” kata Kepala Biro memperkenalkan.

“Selamat pagi adik-adik. Hari ini Pak Menteri dan Pak Dirjen sedang ada tugas lain, jadi saya ditugaskan menerima kedatangan adik-adik.” kata Pak Enoch memulai pembicaraan.

“San, kamu saja yang jadi juru bicara.” bisik Yoyok (Widyatmoyo) sambil menyepak kakiku di bawah meja.

“Sialan!” umpatku dalam hati. Tadi rencananya tidak begini. Mas Haris yang paling tua seharusnya jadi juru bicara. Tapi aku lihat dia duduk dengan mulut terkunci di samping Yoyok. Tak ada pilihan lain. Grogi, dengan tangan sedikit gemetar aku keluarkan map dari tas yang sejak tadi aku tenteng. Lalu aku keluarkan selembar kertas dari map itu, aku serahkan kepada Pak Enoch. Aku tarik napas agak dalam, lalu mulai bicara.

“Kami datang membawa rumusan hasil seminar di kampus minggu lalu, mengenai jilbab. Pada intinya, dari hasil kajian kami telah disimpulkan bahwa memakai jilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah. Sama seperti kewajiban salat, puasa, dan sebagainya. Kalau pemakaian jilbab dilarang seperti sekarang, itu sama saja dengan menghalangi kebebasan beribadah yang dilindungi Undang-undang Dasar.”

Dua minggu sebelum hari itu di Yogya kami menyelenggarakan seminar tentang jilbab. Kami resah, ada banyak anak sekolah yang tidak boleh memakai jilbab di sekolah. Yang membangkang ada yang sampai dikeluarkan. Lalu ada yang menggugat ke pengadilan. Dalam seminar itu kami sedang mencari rumusan, bagaimana posisi jilbab dalam hukum Islam serta hokum negara. Banyak tokoh hadir ketika itu, di antaranya Hakim Agung Bismar Siregar, Husein Umar tokoh DDII, dan Adaby Darban dosen UGM. Rumusan hasil seminar itulah yang kami bawa sekarang.

Pak Enoch sejenak terdiam, membaca kertas yang aku serahkan tadi. Lalu dia menjawab, “Terima kasih atas masukannya. Tapi begini. Pemerintah sebenarnya tidak menghalangi warga negara dalam beribadah. Pemerintah tidak melarang pemakaian jilbab. Yang terjadi di sekolah adalah kasus khusus. Di sekolah murid-murid diwajibkan memakai seragam, dan jilbab itu menyalahi ketentuan baju seragam. Hanya itu masalahnya.”

“Tapi, Pak, dengan dalih ketentuan baju seragam itu hak siswa untuk menjalankan ibadah menjadi terhalang.” aku mendebat.

“Lho, siswa kan masih bisa memakai jilbab di luar sekolah.”

“Bukan begitu caranya. Jilbab itu tidak seperti salat yang tertentu waktunya. Jilbab itu dipakai berdasarkan keadaan, yaitu ketika seseorang berada di lingkungan yang bukan mahramnya. Kalau dia tidak pakai jilbab ketika itu, itu sudah berdosa.’

Panjang perdebatan kami ketika itu. Pak Enoch bertahan bahwa negara tidak melakukan kesalahan apapun dalam soal jilbab itu. Akhirnya kami sampai pada titik bahwa kami sudah cukup menjelaskan. Pemerintah sepertinya tidak mau peduli. Jadi kami harus ambil jalan lain. Kami lalu berpamitan.

Tujuan berikutnya adalah Ketua MUI. Dalam pandangan kami MUI tidak tegas. Tidak pernah ada fatwa MUI yang menegaskan kewajiban memakai jilbab. Karena itu tak jarang pihak pemerintah menuduh pemakaian jilbab semata merupakan ajaran aneh dari kelompok ekstrim. Ia adalah simbol perlawanan kelompok-kelompok ekstrim kanan. Itulah sebabnya ia dilarang. Kami akan mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa tentang jilbab.

Bertiga kami kembali bergelantungan di bis, menuju daerah Mampang Prapatan, ke rumah Pak KH Hasan Basri, Ketua MUI. Tak seorangpun dari kami tahu seluk beluk Jakarta dengan baik. Kami salah naik bis, sehingga harus beberapa kali turun naik bis. Di tengah jalan kami istirahat makan siang, lalu melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di daerah Mampang kami juga salah halte ketika turun. Kami harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke rumah Pak Hasan Basri. Menjelang magrib baru kami tiba di situ.

Kini lagi-lagi aku yang jadi juru bicara. Pak Hasan Basri mendengar penjelasanku dengan tenang. Sungguh, aku sebenarnya lebih kesal sekarang. Bagiku kunci persoalan ada di tangan MUI. Kalau MUI sudah mengeluarkan fatwa secara tegas, pemerintah tentu tak akan berani menentang secara terang-terangan. Tadi Pak Enoch juga mengatakan bahwa mereka masih menunggu fatwa MUI soal jilbab ini. Tapi MUI tak kunjung memberi fatwa. Kekesalanku tertuang pada kata-kata dan nada bicaraku ketika itu. Pak Kiyai itu di mataku lebih terlihat sebagai musuh ketimbang pengayom.

Tapi Pak Kiyai sungguh tenang. Hanya mengenakan kaos polos berwarna putih dan kain sarung, tanpa peci, ia tampak berbeda dengan sosok yang sering aku saksikan di layar TV. “Dik.” katanya lembut, “Harap dipahami dulu. MUI hanya bisa mengeluarkan fatwa untuk perakara yang belum ada ketentuan hukumnya. Ulama misalnya tidak perlu lagi membuat fatwa soal kewajiban salat, misalnya. Karena sudah jelas. Soal jilbab ini juga sudah sangat jelas. Kalau kami fatwakan, justru derajat kekuatan hukumnya jadi rendah. Ingat, fatwa itu tidak mengikat kepada siapapun.”

Kami terdiam, kehabisan kata-kata. Prasangkaku kepada MUI langsung runtuh.

“Saya sungguh kesal kepada Mendikbud. Sudah berulang kali kok saya tegaskan soal kewajiban jilbab ini kepada beliau. Tapi kenapa masih seperti itu juga sikapnya? Terima kasih kalian sudah menyampaikan ini. Ini akan jadi bahan bagi kami untuk mengambil tindakan selanjutnya.”

Setelah berbincang lagi beberapa saat, kami lalu salat magrib diimami Pak Kiyai, lalu melanjutkan perjalanan. Malam hari kami mengunjungi kantor Harian Pelita. Sambil makan nasi bungkus yang mereka suguhkan kami melontarkan segenap kekesalan kepada pemerintah. Beberapa kata keras aku lontarkan dengan marah.

“Abang tulis ya.” kata wartawan itu menantang.

“Tulis saja. Tulis.” kataku.

Esoknya berita kunjungan kami ke Depdikbud dimuat di Berita Buana dan Pelita. Tapi kata-kata kerasku tak muncul. Kami kembali ke Yogya esok harinya.

Dua tiga minggu setelah itu pemerintah mengumumkan pencabutan larangan berjilbab di sekolah. Di halaman muka terpampang foto Mendikbud Fuad Hasan bersama model yang mengenakan seragam SMA dan SMP dengan rok panjang, baju lengan panjang, dan memakai jilbab. Pengumuman itu disambut kegembiraan di berbagai tempat. Dan masalah dianggap selesai.

+++
Jilbab. Aku jadi teringat pada Ayah, pada rumah kami di kampung. Pada suatu petang usai salat isya, Ayah membuka buku fiqh lusuh miliknya. Emak duduk di dekatnya. Aku, dua abangku serta dua kakak perempuanku duduk melingkar di depan Ayah. Aku masih kecil ketika itu.

“Perempuan itu wajib menutup aurat. Yang boleh tampak hanyalah muka dan telapak tangan.” nasihat Ayah sambil mengutip hadist di buku fiqh. Aku tak pernah melupakan nasihat itu. Kakak-kakakku waktu itu biasa memakai rok. Emak memakai sarung batik dan kebaya. Tak ada yang memakai jilbab. Tak ada siapapun waktu itu yang pakai jilbab. Nasihat Ayah malam itu berlalu begitu saja.


Beberapa tahun kemudian kami mulai mengenal TV. Ada orang yang punya TV di kampung kami. Kami pergi ke situ untuk menonton. Pada acara dunia dalam berita sering ditampilkan perempuan-perempuan Iran, berbaju longgar, berjilbab besar, menutup hingga ke bawah pinggangnya. Gambar-gambar itu tampak berulang-ulang. Konon karena itulah mulai banyak orang memakai jilbab.

Jilbab. Di suatu ketika ia adalah pembeda kelas. Yang merdeka pakai jilbab, yang budak tidak. Agar jelas perbedaannya, agar perempuan merdeka tidak diganggu oleh begundal padang pasir. Umar pernah marah pada perempuan budak yang pakai jilbab, karena hal itu bisa mengacaukan tatanan tadi.

Jilbab kemudian jadi bagian syariat Islam. Tapi entah mengapa gagasan tentang ini tak begitu luas dianut oleh orang Islam di Indonesia. Tak banyak ulama menyuarakannya. Istri-istri mereka pun tidak memakai jilbab. Sampai tayangan-tayangan gambar  perempuan Iran di TV itu masuk ke rumah-rumah kita.

Jilbab. Sebagian orang menganggapnya simbol penindasan terhadap perempuan. Tapi banyak pula yang menganggapnya simbol pembebasan. Banyak perempuan brilian, tampil berjilbab. Seakan dia berkata, “Aku cerdas karena aku berjilbab.” Suatu hari aku sadar betapa panjang waktu telah berlalu ketika anak perempuanku satu-satunya meminta, "Ayah, aku ingin ganti seragam sekolah. Pengen pakai seragam yang berjilbb." Meski seragam dia masih baru dan bagus, aku turuti permintaanya. Aku belikan seragam berjilbab untuk dia.

Kini tak ada larangan, tak ada apapun. Kita menyaksikan perempuan-perempuan berjilbab di mana-mana. Apa makna jilbab bagi masih-masing pemakainya kini? Embuh.


Note: Mas Haris Widodo sekarang menjadi Wakil Wali Kota Salatiga. Aku dan Yoyok istiqamah menjadi nobody :d

Penulis : Hasanudin Abdurakhman

Al Qur'an yang dibakar

“Anjing!” rutuk saya sesaat setelah membaca berita itu, berita tentang pembakaran Al Qur'an oleh dua orang pendeta, “Ini gila! Kita harus perang! Terkutuklah mereka!” Umpatan-umpatan dan caci-maki saya keluar tanpa kontrol.
“Setan!” teriak saya sekali lagi.
Tiba-tiba Tuan Setan muncul di hadapan saya! Wajahnya penuh kemarahan. “Bakarlah Al-Quranmu!” kata Tuan Setan tiba-tiba.
Jelas saya berang mendengar ucapannya. Emosi saya naik pitam. Dada saya turun naik. Dan seketika kutuk dan serapah membrudal dari mulut saya. “Percuma selama ini aku mulai menaruh rasa simpati kepadamu! Kau ternyata memang pantas dilaknat dan dimusuhi! Terkutuklah kau!”
“Bakarlah Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, dengan nada yang lebih tegas. Matanya nyalang. Gigi-giginya gemertak. Lalu telunjuknya mengarah tepat ke wajah saya. “Bakar!” ia berteriak, “Bakarlah kalau memang selama ini ia hanya menjadi kertas, bakarlah! Bakarlah!”
Napas saya turun naik, mata saya memerah, tangan saya mengepal. “Terkutuklah kau!” teriak saya.
“Mana Al-Quranmu!?” bentak Tuan Setan.
Tiba-tiba saya tersintak. Tiba-tiba saya merasa harus menemukan Al-Quran milik saya yang entah saya simpan di mana, sementara Tuan Setan terus menerus berteriak “Bakar! Bakarlah Al-Quranmu!” Saya terus mencari. Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya? Saya membongkar isi lemari, mengeluarkan buku-buku, berkas-berkas, tumpukan kliping koran, dan kertas-kertas apa saja dari dalam lemari. Di manakah Al-Quran saya? Saya mulai resah mencari di mana Al-Quran saya. Saya ke ruang tamu, ke ruang tengah, ke dapur, ke seluruh penjuru rumah. Saya memeriksa ke belakang lemari, ke sela-sela tumpukan kaset dan CD-CD, ke mana-mana. Tetapi, saya tak menemukan Al-Quran saya! Di manakah saya menyimpan Al-Quran saya?
“Bakarlah Al-Quranmu!” sementara Tuan Setan terus-menerus berteriak, “Bakar!”
Saya mulai panik dan resah, kemarahan saya mulai pudar, ternyata saya tak bisa menemukan Al-Quran saya sendiri.
“Bakarlah Al-Quranmu kalau itu hanya menjadi kertas usang yang kausia-siakan!” kata Tuan Setan tiba-tiba.
Dada saya berguncang hebat. Pelan-pelan tapi pasti saya mulai menangis—tetapi saya belum menyerah untuk terus mencari Al-Quran saya. Di mana Al-Quran saya? Ada sebuah buku tebal berwarna hijau di atas lemari tua di kamar belakang, saya kira itulah Al-Quran saya, setelah saya ambil ternyata bukan: Life of Mao. Saya kecewa. Saya terus mencari sambil diam-diam air mata saya mulai meluncur di tebing pipi.
“Bakarlah Al-Quranmu!” suara Tuan Setan kembali memenuhi ruang kesadaran saya. Tetapi kini saya tak bisa marah lagi, ada perasaan sedih dan kecewa mengaduk-aduk dada saya. Ada sesak yang tertahan, semantara isak tangis tak sanggup saya tahan.
Akhirnya saya menyerah. Saya tak menemukan Al-Quran saya di mana-mana di setiap sudut rumah saya!
Kemudian Tuan Setan tersenyum menang, ia menyeringai dan menatap saya dengan sinis. “Jadi, kenapa kau mesti marah saat ada orang yang membakar dan menginjak-injak Al-Quran?” kemudian ia tertawa. “Lucu! Ini lucu! Mengapa kau mesti marah sedangkan kau sendiri tak memperdulikannya selama ini?”
Saya terus menangis. Dada saya berguncang. Tuan Setan tertawa. “Jadi, mengapa kau mesti mengutuk mereka yang menyia-nyiakan dan merendahkan Al-Quran sementara kau sendiri melakukannya—diam-diam?” katanya sekali lagi. Ada perih yang mengaliri dada saya, mendesir gamang ke seluruh persendian saya.
Tiba-tiba saya ingat sebuah tempat: gudang belakang rumah. Barangkali Al-Quran saya ada di situ!
Saya bergegas bangkit dari tubuh saya yang tersungkur, saya berlari menuju gudang belakang, membuka pintunya, lalu menyaksikan tumpukan barang-barang bekas yang usang dan berdebu. Sebuah kotak tersimpan di sudut ruang gudang, saya segera ingat di situlah saya menaruh buku-buku bekas yang sudah tua dan tak terbaca. Seketika saya hamburkan isi kotak itu, membersihkannya dari debu, dan akhirnya… saya mendapatkannya: Al-Quran saya!
Saya menatap Al-Quran saya dengan tatap mata rasa bersalah. Saya mengusap-usapnya, meniupnya, membersihkannya dari debu yang melekat di mushaf tua itu. Kemudian Saya mendekapnya erat-erat—mengingat masa kecil saya belajar mengeja huruf hijaiyyah, menghafal surat Al-Fatihah… “Astagfirullahaladzhim…” tiba-tiba dada saya bergemuruh, air mata saya menderas.
Tuan Setan tertawa lepas. “Bakar saja Al-Quranmu!” katanya sekali lagi, “Bukankah ia tak berguna lagi bagimu?” nada bicaranya mengejek.
Saya masih mendekap Al-Quran saya, tergugu dengan dada seolah tersayat sembilu.
“Jika pendeta yang membakar Al-Quran itu mengatakan bahwa Al-Quran adalah buku yang penuh kebencian, bukankah mereka hanya menilainya dari perilaku yang kalian tunjukkan? Bila mereka mengira Al-Quran hanyalah kitab omong kosong dan Muhammad yang membawanya hanya nabi palsu yang berbohong tentang firman, bukankah itu karena kau—kalian semua—tak pernah sanggup menunjukkan keagungan dan keindahannya? Kau, kalian semua, harus menjelaskannya!
“Jangankan menunjukkan keindahan dan keagungan Al-Quran, membacanya pun kau tak! Jangankan menaklukkan musuh Tuhan sementara menaklukkan dirimu sendiri pun kau tak sanggup! Apa sih maumu? Al-Quran tak pernah mengajarkan permusuhan dan kebencian, Al-Quran tak pernah mengajarkan hal-hal yang buruk, lalu kenapa kau terus-menerus melakukannya? Al-Quran selalu mengajarimu kebaikan, mengapa kau tak pernah mau mengikutinya? Heh, ya, aku baru ingat, jangankan mengikuti petunjuknya, memahami dan membacanya pun kau tak!
“Lalu kenapa kau harus marah ketika Al-Quran dibakar? Mengapa kau tak memarahi dirimu sendiri saat kau menyia-nyiakan Al-Quranmu? Ini bukan semata-mata soal pendeta yang membakar Al-Quran, ini bukan semata-mata soal pelecehan terhadap institusi agamamu, ini bukan semata-mata soal permulaan dari sebuah peperangan antar-agama, ini semua tentang kau yang selama ini menyia-nyiakan Al-Quran, tentang kau yang secara laten dan sistematis menyiapkan api dan bensin dari perilaku burukmu untuk menunggu Al-Quran dibakar lidah waktu yang meminjam tangan orang-orang yang membenci agamamu! Mereka tak akan berani membakar Al-Quran, kitab sucimu itu, kalau saja selama ini kau sanggup menunjukkan nilai-nilai agung yang dibawa Nabimu, nilai-nilai kebaikan yang termaktub dalam teks suci kitab yang difirmankan Tuhanmu! Maka bila kau tak sanggup menggemakan Quran amanat nabimu ke segala penjuru, tak sanggup menerima cahayanya dengan hatimu, bakarlah Al-Quranmu! ”
Lalu seketika terbayang, Al-Quran yang teronggok sia-sia di rak-rak buku tak terbaca, Al-Quran yang diletakkan di paling bawah tumpukkan buku-buku dan majalah, Al-Quran yang kesepian tak tersentuh di masjid dan langgar-langgar, Al-Quran yang tak terbaca dan (di)sia-sia(kan)!
Saya menangis; memanggil kembali hapalan yang entah hilang kemana, mengeja kembali satu-satu alif-ba-ta yang semakin asing dari kosakata hidup saya. Saya melacaknya dalam ingatan saya yang terlanjur dijejali kebohongan, kebebalan, penipuan, dan pengkhiatan-pengkhiantan. Di manakah Al-Quran dalam diri saya?
“Maka, bakarlah Al-Quran oleh tanganmu sendiri!” kata Tuan Setan, “Hentikan airmata sinetronmu, hentikan amarah palsumu, hentikan aksi solidaritas penuh kepentinganmu, hentikan rutuk-serapah politismu, sebab kenyataannya kau tak pernah mencintai Al-Quran! Bakarlah!”
Tuan Setan tertawa lepas.
“Maafkan…” suara saya tiba-tiba pecah menjelma tangis, “Maafkan…,” lalu saya bergegas pergi dengan Al-Quran yang kugamit di lengan kananku.
“Bakar saja Al-Quranmu!” teriak Tuan Setan yang kutinggalkan di gelap ruangan gudang. Lamat-lamat tawanya masih ku dengar di ujung jalan.
Saya mencari masjid, saya ke mal, saya ke pasar, saya ke terminal, saya ke sekolah, saya ke mana-mana… Saya ingin mencari mushaf-mushaf Al-Quran yang disia-siakan. Saya ingin membersihkannya dari debu dan mengajak sebanyak mungkin orang membacanya. Saya masih bergegas dengan langkah yang galau. Saya ingin mengabarkan keagungan dan keindahan Al-Quran, tapi bagaimana caranya? Sedangkan saya sendiri tak memahaminya? Saya ingin menggaungkannya di mana-mana, tapi bagaimana caranya?
Saya terus bertanya-tanya bagaimana agar Al-Quran tak dibakar? Bagaimana agar Al-Quran tak terbakar? Bagaimana?
Ya, Tuhan akukah insan yang bertanya-tanya?
Ataukah aku Mukmin yang sudah tahu jawabnya?
Kulihat tetes diriku dalam muntahan isi bumi
Aduhai, akan kemanakah kiranya aku bergulir
Di antara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah kulihat sezarah saja kebaikan yang pernah kubuat?
Ya Tuhan, nafasku gemuruh, diburu firmanmu!
[KH. Mustafa Bisri, Tadarus]
Saya terus menangis dalam langkah-langkah gelisah yang bergegas, haruskan saya melawan semua ini dengan amarah dan kebencian? Ataukah saya harus menunjukkan kepada mereka semua yang membenci Al-Quran bahwa sungguh mereka telah keliru? Haruskah saya kembali marah dan membakar kitab suci mereka di mana-mana, atau akan lebih baikkah jika saya jawab mereka dengan cinta dan kasih sayang—meneladani Muhammad dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan cahaya Al-Quran karena sesungguhnya mereka hanya belum tahu!?
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bacalah!” tiba-tiba suara Tuan Setan datang lagi, “Biarkanlah mereka membakar mushaf sebab Al-Quran bukanlah kertas yang bisa mereka bakar. Bacalah Al-Quran hingga suaranya terdengar oleh hatimu, bergema di seluruh ruang kesadaranmu, maka kau tak akan kecewa mendapati mushaf-mushaf yang terbakar atau ayat-ayat yang teronggok di ruangan-ruangan tua berdebu buku. Sebab Al-Quran bukanlah mushaf, Al-Quran adalah semesta, nama di luar kata! Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.”
Saya terdiam mendengar kata-kata Tuan Setan yang terakhir, “Tuan Setan, sebenarnya siapakah kamu? Apa agamamu?”
Ia terkekeh, bahunya berguncang, “Akulah yang kau lihat dalam tidurmu: berlarian atau terbang atau tertawa tanpa suara, sesuatu yang lama kau idamkan tetapi lupa kau sapa. Akulah yang telah sengaja membakar Al-Quranmu!”
Ia terus terkekeh, terbatuk, lalu menghilang.
*Fahd Djibran, curhat tuan setan : Al Qur'an yang dibakar
Serpong, 16 September 2010