Monday, October 20, 2014

Ironi Pejuang

Ironi Pejuang
Setiap tahun dalam suasana peringan HUT Kemerdekaan selalu saja ada cerita tentang pejuang kemerdekaan yang hidup terlantar. Di satu sisi ini adalah sebuah gambaran tentang lalainya pemerintah dalam mengurus hak-hak warga negara. Tapi di sisi lain ini adalah sebuah ironi.
Bukankah orang-orang ini adalah pejuang? Seseorang yang berjuang membela negara seharusnya adalah pejuang bagi dirinya sendiri. Seseorang yang mau berkorban untuk negara, tentu mau berkorban untuk diri sendiri. Seseorang yang berjuang untuk kemerdekaan tentu akan berjuang pula untuk kemerdekaan dirinya.
Tapi kenapa pejuang seperti ini bisa hidup terlantar?
Saya jadi teringat pada cerita almarhum bapak mertua saya. Dia waktu muda adalah seorang pejuang kemerdekaan, anggota Tentara Pelajar. Ia kemudian mendapat anugerah Bintang Gerilya, yang membuatnya berhak dimakamkan di TMP Kalibata.
Usai perang kemerdekaan pemerintah menyediakan beasiswa kepada anggota Tentara Pelajar untuk sekolah ke berbagai negara. Tapi waktu itu beliau enggan, karena masih asyik bermain-main. Ketika akhirnya beliau sadar untuk memanfaatkan kesempatan itu, beasiswa tersebut sudah habis.
Ada penyesalan yang dalam saya lihat di wajahnya ketika ia bercerita tentang hal itu. Beliau kemudian berusaha kuliah di UI dengan biaya sendiri. Kawan kuliahnya adalah Kamardi Arif, yang pernah jadi Dirut BRI. Karena tidak cukup biaya, bapak mertua saya kemudian banting setir menjadi pengusaha. Ia hidup berkecukupan, meski tidak mewah. Cukup untuk membiayai pendidikan anak-anak, dan cukup bekal hidup di hari tua.
Saya kira ada banyak pejuang kita yang menjadi kehilangan orientasi setelah kemerdekaan tercapai. Ada yang gagal mengalihkan semangat juang dari agenda merebut kemerdekaan menjadi agenda memerdekakan diri sendiri.
Kita mungkin juga begitu. Ada yang misalnya gagal mengubah mind set dari aktivis mahasiswa menjadi orang dewasa yang punya tanggung jawab lebih. Luntang lantung bak mahasiswa, padahal umur sudah kepala empat.
Memerdekakan diri itu seperti melepaskan selimut di pagi hari, bergerak bangkit, melepaskan diri dari kenyamanan, menuju kepada kenyamanan yang lebih nyata lagi.
Merdeka!

Hasanudin Abdurahman

No comments:

Post a Comment