Di suatu pagi, dua puluh tahun yang lalu. Kami menembus keramaian pagi ibukota, saat manusia berhamburan dari rumah-rumah mereka, menuju tempat kerja. Tempat hidup mereka dipertaruhkan. Aku beserta dua orang temanku, Widyatmoyo dan M. Haris Widodo, berjejal kami berdiri di dalam bis kota yang penuh sesak. Menjelang pukul delapan pagi kami tiba di tempat yang kami tuju: gedung Depdikbud di Senayan.
Sejak turun di halte bis tadi aku sudah mulai tak tenang. Dadaku bergemuruh, jantungku berdegup kencang dari biasa. Kami sedang menuju suatu tempat penting: Kantor Mendikbud, dan berharap bertemu orang penting, yaitu Mendikbud sendiri. Aku membayangkan betapa beratnya hal itu. Besar kemungkinan di pintu depan kami sudah diusir petugas keamanan. Berbagai cara aku lakukan untuk menenangkan diri. Aku lihat kedua temanku juga tak tampak tenang. Di pintu pagar serentak kami mengenakan jaket almamater UGM yang tadi kami tenteng. Logo UGM yang tersulam di dada jaket sempat melintas di pandangaku saat aku mengenakannya. Entah mengapa kemudian ada sedikit rasa tenang setelah melihat logo itu. Ya, kami mahasiswa UGM, kami datang dari kampus terbaik, yang hanya dihuni oleh putra-putra terbaik bangsa ini. Berbekal kebanggan itu aku melangkahkan kaki dengan lebih percaya diri, menuju pintu depan kantor Mendikbud.
Tak seperti dugaanku. Kami tak perlu berdebat dengan petugas keamanan. Di pintu depan kami sudah ditunggu oleh seseorang berbaju safari, tangannya menggenggam sebuah buku agenda. Dia tersenyum ramah menyambut kami.
“Selamat datang, adik-adik. Saya Kepala Biro Humas Depdikbud.” sapanya memperkenalkan diri dan menyalami kami.
Kami heran dengan sambutan ini, namun segera tahu jawabnya. Kepala Biro tadi menunjukkan sebuah koran pagi, Berita Buana. Di halaman depan bagian bawah ada berita dengan judul, “Soal Jilbab, Hari ini Utusan Mahasiswa UGM Menghadap Mendikbud”. Petang kemarin sebelum berangkat dengan kereta api Senja Utama dari Yogya kami memang sempat berbincang dengan seorang wartawan tentang rencana keberangkatan kami. Di berita tersebut ditulis bahwa kami akan datang bertiga.
“Saya kaget bahwa kalian benar-benar datang bertiga. Biasanya kalau mahasiswa datang ke sini dua bis.” kata Kepala Biro tertawa. Lalau dia mengantar kami ke sebuah ruang rapat kecil. Di situ kami disuguhi dengan teh manis. Tak lama kemudian seseorang yang lain, berbaju safari dan berkacamata dengan bingkai plastik tebal berwarna hitam masuk ke ruangan. Dia duduk di meja di seberang tempat kami duduk.
“Perkenalkan, ini Bapak Enoch Markum, Direktur Kemahasiswaan Ditjen Dikti.” kata Kepala Biro memperkenalkan.
“Selamat pagi adik-adik. Hari ini Pak Menteri dan Pak Dirjen sedang ada tugas lain, jadi saya ditugaskan menerima kedatangan adik-adik.” kata Pak Enoch memulai pembicaraan.
“San, kamu saja yang jadi juru bicara.” bisik Yoyok (Widyatmoyo) sambil menyepak kakiku di bawah meja.
“Sialan!” umpatku dalam hati. Tadi rencananya tidak begini. Mas Haris yang paling tua seharusnya jadi juru bicara. Tapi aku lihat dia duduk dengan mulut terkunci di samping Yoyok. Tak ada pilihan lain. Grogi, dengan tangan sedikit gemetar aku keluarkan map dari tas yang sejak tadi aku tenteng. Lalu aku keluarkan selembar kertas dari map itu, aku serahkan kepada Pak Enoch. Aku tarik napas agak dalam, lalu mulai bicara.
“Kami datang membawa rumusan hasil seminar di kampus minggu lalu, mengenai jilbab. Pada intinya, dari hasil kajian kami telah disimpulkan bahwa memakai jilbab adalah kewajiban bagi setiap muslimah. Sama seperti kewajiban salat, puasa, dan sebagainya. Kalau pemakaian jilbab dilarang seperti sekarang, itu sama saja dengan menghalangi kebebasan beribadah yang dilindungi Undang-undang Dasar.”
Dua minggu sebelum hari itu di Yogya kami menyelenggarakan seminar tentang jilbab. Kami resah, ada banyak anak sekolah yang tidak boleh memakai jilbab di sekolah. Yang membangkang ada yang sampai dikeluarkan. Lalu ada yang menggugat ke pengadilan. Dalam seminar itu kami sedang mencari rumusan, bagaimana posisi jilbab dalam hukum Islam serta hokum negara. Banyak tokoh hadir ketika itu, di antaranya Hakim Agung Bismar Siregar, Husein Umar tokoh DDII, dan Adaby Darban dosen UGM. Rumusan hasil seminar itulah yang kami bawa sekarang.
Pak Enoch sejenak terdiam, membaca kertas yang aku serahkan tadi. Lalu dia menjawab, “Terima kasih atas masukannya. Tapi begini. Pemerintah sebenarnya tidak menghalangi warga negara dalam beribadah. Pemerintah tidak melarang pemakaian jilbab. Yang terjadi di sekolah adalah kasus khusus. Di sekolah murid-murid diwajibkan memakai seragam, dan jilbab itu menyalahi ketentuan baju seragam. Hanya itu masalahnya.”
“Tapi, Pak, dengan dalih ketentuan baju seragam itu hak siswa untuk menjalankan ibadah menjadi terhalang.” aku mendebat.
“Lho, siswa kan masih bisa memakai jilbab di luar sekolah.”
“Bukan begitu caranya. Jilbab itu tidak seperti salat yang tertentu waktunya. Jilbab itu dipakai berdasarkan keadaan, yaitu ketika seseorang berada di lingkungan yang bukan mahramnya. Kalau dia tidak pakai jilbab ketika itu, itu sudah berdosa.’
Panjang perdebatan kami ketika itu. Pak Enoch bertahan bahwa negara tidak melakukan kesalahan apapun dalam soal jilbab itu. Akhirnya kami sampai pada titik bahwa kami sudah cukup menjelaskan. Pemerintah sepertinya tidak mau peduli. Jadi kami harus ambil jalan lain. Kami lalu berpamitan.
Tujuan berikutnya adalah Ketua MUI. Dalam pandangan kami MUI tidak tegas. Tidak pernah ada fatwa MUI yang menegaskan kewajiban memakai jilbab. Karena itu tak jarang pihak pemerintah menuduh pemakaian jilbab semata merupakan ajaran aneh dari kelompok ekstrim. Ia adalah simbol perlawanan kelompok-kelompok ekstrim kanan. Itulah sebabnya ia dilarang. Kami akan mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa tentang jilbab.
Bertiga kami kembali bergelantungan di bis, menuju daerah Mampang Prapatan, ke rumah Pak KH Hasan Basri, Ketua MUI. Tak seorangpun dari kami tahu seluk beluk Jakarta dengan baik. Kami salah naik bis, sehingga harus beberapa kali turun naik bis. Di tengah jalan kami istirahat makan siang, lalu melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di daerah Mampang kami juga salah halte ketika turun. Kami harus berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke rumah Pak Hasan Basri. Menjelang magrib baru kami tiba di situ.
Kini lagi-lagi aku yang jadi juru bicara. Pak Hasan Basri mendengar penjelasanku dengan tenang. Sungguh, aku sebenarnya lebih kesal sekarang. Bagiku kunci persoalan ada di tangan MUI. Kalau MUI sudah mengeluarkan fatwa secara tegas, pemerintah tentu tak akan berani menentang secara terang-terangan. Tadi Pak Enoch juga mengatakan bahwa mereka masih menunggu fatwa MUI soal jilbab ini. Tapi MUI tak kunjung memberi fatwa. Kekesalanku tertuang pada kata-kata dan nada bicaraku ketika itu. Pak Kiyai itu di mataku lebih terlihat sebagai musuh ketimbang pengayom.
Tapi Pak Kiyai sungguh tenang. Hanya mengenakan kaos polos berwarna putih dan kain sarung, tanpa peci, ia tampak berbeda dengan sosok yang sering aku saksikan di layar TV. “Dik.” katanya lembut, “Harap dipahami dulu. MUI hanya bisa mengeluarkan fatwa untuk perakara yang belum ada ketentuan hukumnya. Ulama misalnya tidak perlu lagi membuat fatwa soal kewajiban salat, misalnya. Karena sudah jelas. Soal jilbab ini juga sudah sangat jelas. Kalau kami fatwakan, justru derajat kekuatan hukumnya jadi rendah. Ingat, fatwa itu tidak mengikat kepada siapapun.”
Kami terdiam, kehabisan kata-kata. Prasangkaku kepada MUI langsung runtuh.
“Saya sungguh kesal kepada Mendikbud. Sudah berulang kali kok saya tegaskan soal kewajiban jilbab ini kepada beliau. Tapi kenapa masih seperti itu juga sikapnya? Terima kasih kalian sudah menyampaikan ini. Ini akan jadi bahan bagi kami untuk mengambil tindakan selanjutnya.”
Setelah berbincang lagi beberapa saat, kami lalu salat magrib diimami Pak Kiyai, lalu melanjutkan perjalanan. Malam hari kami mengunjungi kantor Harian Pelita. Sambil makan nasi bungkus yang mereka suguhkan kami melontarkan segenap kekesalan kepada pemerintah. Beberapa kata keras aku lontarkan dengan marah.
“Abang tulis ya.” kata wartawan itu menantang.
“Tulis saja. Tulis.” kataku.
Esoknya berita kunjungan kami ke Depdikbud dimuat di Berita Buana dan Pelita. Tapi kata-kata kerasku tak muncul. Kami kembali ke Yogya esok harinya.
Dua tiga minggu setelah itu pemerintah mengumumkan pencabutan larangan berjilbab di sekolah. Di halaman muka terpampang foto Mendikbud Fuad Hasan bersama model yang mengenakan seragam SMA dan SMP dengan rok panjang, baju lengan panjang, dan memakai jilbab. Pengumuman itu disambut kegembiraan di berbagai tempat. Dan masalah dianggap selesai.
+++
Jilbab. Aku jadi teringat pada Ayah, pada rumah kami di kampung. Pada suatu petang usai salat isya, Ayah membuka buku fiqh lusuh miliknya. Emak duduk di dekatnya. Aku, dua abangku serta dua kakak perempuanku duduk melingkar di depan Ayah. Aku masih kecil ketika itu.
“Perempuan itu wajib menutup aurat. Yang boleh tampak hanyalah muka dan telapak tangan.” nasihat Ayah sambil mengutip hadist di buku fiqh. Aku tak pernah melupakan nasihat itu. Kakak-kakakku waktu itu biasa memakai rok. Emak memakai sarung batik dan kebaya. Tak ada yang memakai jilbab. Tak ada siapapun waktu itu yang pakai jilbab. Nasihat Ayah malam itu berlalu begitu saja.
Beberapa tahun kemudian kami mulai mengenal TV. Ada orang yang punya TV di kampung kami. Kami pergi ke situ untuk menonton. Pada acara dunia dalam berita sering ditampilkan perempuan-perempuan Iran, berbaju longgar, berjilbab besar, menutup hingga ke bawah pinggangnya. Gambar-gambar itu tampak berulang-ulang. Konon karena itulah mulai banyak orang memakai jilbab.
Jilbab. Di suatu ketika ia adalah pembeda kelas. Yang merdeka pakai jilbab, yang budak tidak. Agar jelas perbedaannya, agar perempuan merdeka tidak diganggu oleh begundal padang pasir. Umar pernah marah pada perempuan budak yang pakai jilbab, karena hal itu bisa mengacaukan tatanan tadi.
Jilbab kemudian jadi bagian syariat Islam. Tapi entah mengapa gagasan tentang ini tak begitu luas dianut oleh orang Islam di Indonesia. Tak banyak ulama menyuarakannya. Istri-istri mereka pun tidak memakai jilbab. Sampai tayangan-tayangan gambar perempuan Iran di TV itu masuk ke rumah-rumah kita.
Jilbab. Sebagian orang menganggapnya simbol penindasan terhadap perempuan. Tapi banyak pula yang menganggapnya simbol pembebasan. Banyak perempuan brilian, tampil berjilbab. Seakan dia berkata, “Aku cerdas karena aku berjilbab.” Suatu hari aku sadar betapa panjang waktu telah berlalu ketika anak perempuanku satu-satunya meminta, "Ayah, aku ingin ganti seragam sekolah. Pengen pakai seragam yang berjilbb." Meski seragam dia masih baru dan bagus, aku turuti permintaanya. Aku belikan seragam berjilbab untuk dia.
Kini tak ada larangan, tak ada apapun. Kita menyaksikan perempuan-perempuan berjilbab di mana-mana. Apa makna jilbab bagi masih-masing pemakainya kini? Embuh.
Note: Mas Haris Widodo sekarang menjadi Wakil Wali Kota Salatiga. Aku dan Yoyok istiqamah menjadi nobody :d
Penulis : Hasanudin Abdurakhman
Penulis : Hasanudin Abdurakhman
No comments:
Post a Comment