"Hari Valentine itu adalah propaganda misionaris."
Itu status Facebook seorang teman saya. Saya lantas teringat tentang sebuah artikel yang saya baca belasan tahun yang lalu, tentang sejarah hari Valentine. Singkatnya, hari tersebut untuk mengenang seorang pendeta Kristen, dan kemudian menjadi perayaan ibadah Kristen. Merayakan hari Valentine sama dengan ikut serta dalam peribadatan Kristen, dan tentu saja terlarang dalam syariat Islam. Dan hari Valentine itu, menurut artikel tadi, memang dipopulerkan oleh kalangan Kristen untuk kepentingan kristenisasi. Hingga hari ini artikel seperti itu terus menyebar, dan disebarkan.
Saya tak tahu detil sejarah hari Valentine. Tapi ada banyak versi tentang ini. Bahkan ada versi yang menyebut bahwa legenda Valentine ini sudah ada jauh sebelum sejarah Kristen, sebagaimana Natal, Halloween, dan lain-lain. Perayaan itu merupakan perayaan kaum pagan yang mengalami proses kristenisasi, artinya dianggap (seolah-olah) perayaan itu adalah bagian dari ajaran Kristen.
Perayaan Valentine kini lebih merupakan pesta hura-hura. Di antaranya bahkan dilakukan dengan melampaui batas. Tentu saja ini meresahkan kalangan agama, khususnya Islam. Bagi saya itu wajar, karena banyak dari perayaan hura-hura itu jauh dan menjauhkan orang dari nilai-nilai Islam.
Yang tak wajar adalah menisbatkan itu semua kepada kaum Kristen. Seolah kaum Kristen itu setuju dengan hura-hura itu. Seolah-olah segala macam hedonisme itu bersumber dari ajaran Kristen, dan mereka mempromosikannya. Padahal, yang saya lihat tidak demikian. Orang-orang Kristen yang saleh, anti pada itu semua, sebagaimana orang-orang Islam yang saleh. Perayaan Valentine sendiri banyak mendapat kritik di kalangan Kristen.
Menyedihkan bahwa kita jadi kehilangan arah. Kita bahkan tak tahu siapa musuh kita sebenarnya. Kebencian kita kepada orang Kristen (dan juga Yahudi) telah membuat kita menimpakan tuduhan kepada mereka atas apa saja yang tidak kita senangi. Dan itu kita lakukan dengan membohongi diri kita sendiri. Kita penuhi media dan ruang publik dengan informasi sesat dan fitnah.
Embuh............
Hasanudin Abdurakhman
No comments:
Post a Comment