Monday, October 20, 2014

KINASIH

Para pengawal pernah berkata bahwa tembok di sekitar keputren itu dibangun sedemikian tinggi demi keamanan dan kehormatan para perempuan penghuninya, tapi Kinasih tahu bahwa itu juga berfungsi sebagai sangkar perangkap bagi mereka. Tembok itu tingginya melebihi pucuk-pucuk pohon sawo dan ringin yang di tanam di sepanjangnya. Siapa yang terjatuh dari atas, pasti akan mati lantak belulangnya. Para penghuninya pun memang tak ada yang pernah mencoba melepaskan diri dari sangkar mewah ini, -- atau dari bakti mereka kepada sang Prabu. Ya, memang, sekali seorang perempuan memasuki gerbang keputren ini, di sana ia akan menetap selamanya. Hanya titah sang Prabu yang memungkinkan mereka sesekali melihat dunia luar. Beberapa di antara mereka tak pernah mendapat kesempatan itu.

Ada sekitar 40 orang perempuan berbagai usia terkurung di dalam keputren ini. Kedudukannya bermacam-macam, dari selir sehingga dayang-dayang. Kastanya pun bermacam-macam Ada yang berdarah bangsawan, banyak pula yang seperti dirinya, hanya orang biasa. Ada yang hadir di sana sebagai pion politik, ada yang karena cinta ada pula hanya sebagai pemuas nafsu. Ada yang sudah tua, selir dan dayang-dayang dari mendiang Raja sebelumnya, tapi sebagian besar adalah yang dimiliki jiwa raganya oleh sesembahan yang sekarang.

Kinasih sendiri memasuki gerbang berukiran indah itu ketika usianya baru 14 tahun, hanya beberapa bulan setelah ia menjadi seorang wanita. Dia ingat, sore itu, ketika mata sang Prabu pertama kali menemukan pesona kemudaannya, ketika ia sedang mencuci di sendang, dan kain kembennya tak mampu sepenuhnya menutupi dadanya yang sedang mekar menantang. Tiwuk, sebutannya ketika itu, memang lain dengan gadis desa lainnya. Kulitnya bersih, walaupun sering juga terkena terik matahari ketika membantu orang tuanya di sawah. Sepasang mata besar, bening menjadi permata yang memperlihatkan kecantikan sejatinya. Sore itu juga, ayahnya diperintahkan mengantarkannya ke Puri Istana. Sore itu juga masa belianya yang merdeka telah berakhir.

Ia ingat betapa bangganya ayahnya, si carik desa itu. Anak perempuan satu-satunya diminta tinggal di istana. Entah sebagai apa di sana, tidak masalah, yang jelas sekarang ia akan punya kerabat di istana. Kedua kakak laki-lakinya pun memandangnya dengan pandangan berbeda, mungkin iri. Tiwuk tahu, mereka bercita-cita untuk bisa menjadi prajurit kelak, supaya bisa punya koneksi dengan istana. Sekarang, adik mereka yang akan mendahului mereka, menjadi penghuni istana. Hanya simbok yang mengerti gundah dukanya. Perlahan ia mengelus rambut hitamnya yang panjang. Ia tak menitikkan air mata, tapi simbok tahu, dalam hati ia mengucapkan selamat tinggal pada Tejo, pemuda tanggung yang rumahnya di ujung desa di dekat hutan.

Sore itu juga ia diantarkan ayahnya, yang hanya bisa menemaninya sampai ke gerbang paling luar Puri itu. Berbagai gerbang harus dilewatinya, untuk akhirnya sampai ke gerbang paling dalam, gerbang keputren. Tiwuk melangkah masuk, menanggalkan semua keberadaannya yang lama, ke dalam sangkar yang berlapis kemewahan. Bahkan namanya pun tak berhak dipakainya lagi. Seorang mbok emban telah menunggu kedatangannya, membantunya membersihkan dan mewangikan diri, lalu mengantarnya ke kamar peraduan sang Prabu. Malam itu juga, Tiwuk mati terhadap dunia yang selama ini mengenalnya. Tubuh mudanya bukan lagi menjadi miliknya. Kinasih lahir menggantikannya, seorang perempuan muda bermata indah berdada mekar, yang sepenuhnya tak merasa memiliki dirinya sendiri.

Sekar Suket

No comments:

Post a Comment