Jangan bayangkan bahwa kita harus melakukan wirid selama 24 jam sehari, karena itu mustahil dilakukan. Kalau ada yang membayangkannya demikian, artinya dia telah memahami pengertian zikir secara keliru. Ya, kekeliruan pengertian semacam ini adalahcommon mistake dalam pemahaman terhadap Islam. Kita memang sering mengartikan zikir secara sempit sebagai wirid, yaitu dengan menyebut nama Allah secara verbal. Ini tidak terlalu salah, karena wirid memang salah satu bentuk zikir. Tapi perlu diingat bahwa zikir tidak hanya wirid, tapi jauh lebih luas dari itu pengertiannya.
Zikir, dalam bahasa Arabnya zikr, berarti ingat/mengingat. Zikir yang kita kenal adalah kependekan dari zikrullah, mengingat Allah. Mengingat Allah bisa dilakukan dengan menyebut namaNya secara berulang-ulang, seperti yang kita lakukan pada wirid. Tapi perlu diperhatikan, walaupun kita menyebut namaNya berulang-ulang tak otomatis berarti kita sedang mengingatNya. Bisa jadi pada saat menyebut namaNya, pikiran kita melayang ke hal-hal lain sehingga mulut kita hanya menjalankan fungsi refleknya, tidak lagi dituntun oleh kesadaran. Pada saat itu kita sudah tidak lagi sedang berzikir.
Zikir 24 jam sehari mengacu pada ayat Quran 2:191, “yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring……….”. Ayat ini mengisyaratkan kepada kita agar selalu berada dalam keadaan zikir, ingat kepada Allah, dalam keadaan apapun. Tidak cuma ketika kita sedang shalat, atau wirid. Juga tidak hanya ketika kita sedang di mesjid. Tapi setiap saat. Ketika kita sedang bekerja, makan, atau berbelanja. Bahkan ketika kita sedang bersenggama dengan istri kita. Ingat kepada Allah dalam pengertian mengingat eksistensi, kasih sayang, kebesaran, kekuasaanNya, dan lain-lain. Juga ingat bahwa Dia senantiasa mengawasi setiap tindak tanduk kita.
Inilah salah satu hikmah adanya tuntunan untuk berdoa setiap kita hendak memulai sesuatu. Setidaknya kita disunatkan untuk membaca basmalah. Doa-doa itu adalah zikir yang akan membuat kita senantiasa berada dalam keadaan mengingat Allah, apapun yang akan/sedang kita lakukan.
***
Dewasa ini negeri kita dipenuhi oleh berbagai ironi. Yang menonjol adalah ironi yang berkenaan dengan korupsi. Mengapa? Bayangkan saja, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini ternyata adalah negeri dengan tingkat korupsi paling parah di dunia. Uniknya, hal itu terjadi ketika, katanya, gairah untuk melaksanakan ajaran Islam meningkat pesat. Ini ditandai dengan ramainya forum-forum pengajian, atau penuhnya mushalla kantor pada waktu shalat fardhu.
Teman saya, orang Mesir yang menikah dengan wanita Indonesia, bercerita bagaimana petugas KUA minta “uang jasa” di luar jumlah yang ditentukan ketika dia menurus surat nikah di Jakarta. Padahal pada sandaran kursi petugas itu tergantung sehelai sajadah! Rekan yang lain bercerita bagaimana seorang petugas di kantor imigrasi memalakinya ketika dia sedang mengurus pembuatan paspor. Wajah petugas itu masih basah oleh air wudhu karena dia baru saja selesai shalat.
Dalam ilmu psikologi dikenal suatu penyakit jiwa, yang disebut split personality disorder, atau kepribadian ganda. Orang yang menderita penyakit ini bisa tampil dalam dua kepribadian yang berbeda sama sekali. Dia misalnya, suatu saat bisa tampil sebagai orang dewasa, yang arif dan bijak, tapi pada saat lain akan tampil sebagai anak kecil yang manja. Penyakit kepribadian ganda inilah yang banyak diderita oleh umat kita. Pada saat tertentu kita adalah hamba Allah, yang ruku’ dan sujud, menjalankan perintahNya. Tapi pada saat yang lain kita adalah hamba perut, hamba nafsu kita. Kita tunduk pada keinginan perut (dan sekitarnya), kita tunduk pada perintah nafsu kita. Pada saat itu kita lakukanlah hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Perlu kita ingat bahwa Islam itu bukan pilihan ganda. Kita tidak bisa memilih (melaksanakan) salah satu ajarannya, sambil meninggalkan yang lain. Bagi Allah kita adalah orang kafir yang sebenar-benarnya kalau kita melakukan hal itu (QS. 4: 150-151). Jadi, kita sebenarnya hanya punya dua pilihan: beriman secara total, atau kafir.
***
Penyakit kepribadian ganda ini adalah buah dari kegagalan kita dalam melakukan zikir 24 jam sehari tadi. Kita hanya ingat Allah pada saat-saat tertentu, sementara pada sebagian besar waktu kita, kita melupakanNya. Pada saat lupa itulah kita lupa pula bahwa Dia selalu mengawasi kita, mencatat setiap kejahatan kita. Kita juga lupa akan pedihnya siksaNya, sebagai balasan atas kejahatan kita.
Zikir 24 jam sehari adalah salah satu resep untuk kita agar bisa keluar dari krisis multidimensional yang kita hadapi sekarang. Kita harus mulai dari diri kita. Kita harus mulai menyembuhkan diri kita dari penyakit kepribadian ganda tadi. Kita harus mulai mengisi setiap detik dari hidup kita dengan zikir. Mari kita kontrol alam pikiran kita untuk senantiasa ingat kepada Allah.
Perlu pula kita ingat bahwa kita tidak boleh lengah sedikitpun. Bayangkan Anda sedang menyetir mobil atau naik motor, lalu pejamkan mata Anda selama sedetik saja. Apa yang akan terjadi? Kalau Anda beruntung mungkin tak akan terjadi apa-apa. Tapi kalau Anda sedang naas, bisa jadi dalam waktu sedetik itu kendaraan Anda sudah menabrak tiang listrik.
Begitu pula hidup kita. Bisa jadi kelengahan satu detik kita akan mengubah hidup kita secara total. Sedetik ketika kita lengah lalu menilap uang kantor kita, bisa membuat kita kehilangan pekerjaan dan mendekam di penjara. Atau ketika kita memutuskan untuk berzina lalu hal itu menghancurkan keluarga kita atau masa depan kita. Dan masih banyak lagi contohnya.
Karenanya, berzikirlah setiap saat. Jangan sampai ada satu detikpun waktu kita yang berlalu tanpa zikir. Karena bisa jadi satu detik itu adalah satu detik yang mengubah hidup kita.
Hasanudin Abdurakhman
No comments:
Post a Comment