Oleh : Nana G
Pada dasarnya cinta serupa ilmu silat; hanya berinti pada menyerang dan bertahan. Segala bujuk rayu, rupa-rupa kegombalan dan bentuk-bentuk perhatian cuma kembangan dari kedua inti itu.
Pada dasarnya cinta serupa ilmu silat; hanya berinti pada menyerang dan bertahan. Segala bujuk rayu, rupa-rupa kegombalan dan bentuk-bentuk perhatian cuma kembangan dari kedua inti itu.
Begitulah pemahamanku selama mengamati beberapa kasus percintaan yg pernah kualami maupun yg lewat di depanku. Dari pemahaman ini aku biasanya memutar otak cukup keras untuk mengenali jurus-jurus apa yg biasa dikeluarkan oleh orang yg sedang jatuh cinta. Kadang dia menyerang, memukul, namun kadang cuma memandang dari kejauhan. Begitupun sebaliknya, kadang menghindar, kadang menangkis, namun tak jarang pula pura-pura jatuh tanpa perlawanan.
Bagiku sendiri, cukuplah mencintai, tak perlu neko-neko harus memiliki. Aku sudah cukup merasa senang dg berbuat demikian. Sebab cinta bagiku tak perlu membeli, ia gratis bersemayam begitu saja. Biasanya aku hanya menikmati kedatangan dan kepergian dg mencatat namanya dalam hati.
Sememangnya, di dunia ini, seberapa banyak orang yg paham cinta? Apakah umur menambah pemahaman tentang cinta? Tidak sama sekali. Tidak ada satu orang pun yg paham apa itu cinta. Tua dan muda sama-sama bingung tentang cinta.
Orang muda jatuh dan menangis karena cinta. Orang yg sudah tua pun tidak sedikit yg jatuh dan menangis karena cinta. Apakah dg banyaknya luka membuat orang semakin paham dg cinta? Tidak juga. Banyak pemuda pemudi yg terluka dan menderita, terlihat bangkit kembali untuk menemukan cinta lagi. Dan tidak sedikit mereka yg sudah tua juga jatuh lalu tak bangun-bangun lagi. "Umur bukan ukuran yg akan membuat seseorang paham akan cinta".
Pengalaman mencinta yg kesekian kali, juga tidak akan membuat paham akan cinta. Orang yg pernah terluka mungkin akan berkata, “Cukup!, tidak lagi kubiarkan diriku jatuh cinta”. Tapi apa yang terjadi? Tak lama kemudian, ketika dia menemukan cinta yg baru, dia lupa pada pernyataannya. Lalu ketika dia terluka lagi, dia akan mengatakan hal yg sama, untuk kemudian melupakan kata-kata itu jika telah menemukan cinta yg baru lagi. "Tak ada orang yang benar-benar mengerti cinta".
Ketika ia berjanji untuk setia selamanya kepada kekasihnya, ketika ia berjanji untuk menemaninya sampai tua, dan menggenggam tangannya ketika mereka telah rapuh. Ketika ia berjanji untuk menemani kekasihnya sampai maut memisahkan. Betapa lucu janji itu teringat kembali, ketika ternyata ia menemukan orang yg lebih menarik hatinya, "maka semua kata-kata terlupakan, dan janji terbatalkan". Begitu pun luka menganga bagi mereka yg ditinggalkan dan dikhianati, luka itu cepat sekali sembuhnya ketika ada lagi cinta baru yg datang.
Aku menjadi saksi dari semua pemahaman yg aku tulis ini. Dari apa yg kudengar, kulihat dan kurasa, aku menjadi saksi betapa cinta adalah sesuatu yg aneh. Banyak pasangan kekasih yg datang mengadu padaku. Mengucapkan berjuta kata mesra, dan janji sehidup semati. Lalu beberapa hari kemudian, mereka datang dg kekasih yg lain lagi. Untuk mengucapkan janji dan kata-kata manis yg sama lagi.
Yg terjadi tentu tidak cuma di hadapanku, tapi mungkin di hadapan orang-orang di seluruh jagat ini. Begitu pun, hal ini juga yg terjadi padamu: kau berjanji pada kekasihmu, mengucapkan kata cinta yg indah dan manis, lalu ketika kau menemukan kekasih yg baru, janji dan kata manis yg sama kau ucapkan juga pada kekasih barumu itu. Maka cinta = ilmu silat lidah bukan?.
No comments:
Post a Comment